Kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Indonesia
Published by admin November 17th, 2009 in Berita.Oleh: Herda Bolly
“Terima kasih telah menyambut kami. Kesempatan ini menginspirasi kami untuk menjadi lebih baik.”
Demikian pernyataan R. Anggi Ahmad Hakim, perwakilan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) asal Universitas Brawijaya Malang ketika dimintai kesannya. Didampingi oleh Dr. Ramon Mohandas, Atase Pendidikan KBRI Den Haag dan 3 orang pendamping dari Indonesia, Hakim (demikian ia biasa disapa) dan 26 orang rekannya berkesempatan mengunjungi beberapa universitas di Belanda, termasuk di antaranya WUR (Wageningen University and Research Center).
* * *
Rombongan BEM tiba hari Selasa 10 November 2009, pukul 11.00 waktu setempat dan disambut oleh ketua PPI Wageningen, Muhammad Wahyudin Lewaru serta beberapa orang anggota PPI. Rangkaian acara diawali dengan kunjungan ke kantor WSO (Wageningen Student Organization) yang berlokasi di Niemeijerstraat 6. Kunjungan ke WSO tersebut dimaksudkan untuk mengenal dan membandingkan dinamika organisasi kemahasiswaan Wageningen dengan BEM Indonesia. Peserta terlibat diskusi interaktif dengan George Amoasah, ketua eksternal WSO yang juga mahasiswa master tahun kedua Ilmu Lingkungan asal Ghana. Antusiasme peserta terlihat melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan. Menarik menyikapi tanggapan George Amoasah terhadap salah satu pertanyaan peserta tentang taktik yang dilakukan WSO dalam “berdemonstrasi”.
“WSO ada untuk mengakomodasi kepentingan mahasiswa. Karena itu, sebelum memulai suatu aksi, kami memastikan terlebih dahulu apakah mahasiswa (yang kami perjuangkan) memiliki visi yang sama dengan kami. Apa yang menurut kami “masalah”, belum tentu demikian menurut mereka. Kami tidak bangun di pagi hari dan tiba-tiba mengadakan aksi protes.”
Acara diskusi yang berlangsung kurang lebih 1,5 jam tersebut diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan berupa plakat khas Indonesia oleh perwakilan BEM. Peserta meninggalkan kantor WSO dengan membawa pulang hasil sharing dan tak lupa, majalah kampus Wageningen di tangan mereka. Tujuan berikutnya: Forum Building, Droevendaalsesteeg 2.
Sekitar pukul 13.00 rombongan tiba di Forum dan langsung memanfaatkan waktu untuk istirahat sejenak dan makan siang. Beberapa di antara mereka melewatkan lunch time dan memilih untuk berdiskusi dengan anggota PPI tentang studi di WUR. Pertanyaan seputar program studi dan beasiswa mendominasi diskusi singkat tersebut. Cukup jelas untuk menyimpulkan ketertarikan mereka studi di luar negeri. Lagipula, siapa pula yang tak akan tertarik?
Selepas makan siang, rombongan kemudian dibagi dalam beberapa grup dan diajak berkeliling Forum. Perpustakaan, ruang kuliah dan laboratorium adalah bagian-bagian utama yang dikunjungi mereka. Sesekali anggota PPI memberikan penjelasan tentang fasilitas dan kegiatan kampus.
“Fasilitasnya sangat lengkap ya, “komentar salah seorang peserta yang diamini oleh rekannya. Ada pula yang sibuk memotret aktivitas mahasiswa di seputar Forum.
“Sebagai gambaran kegiatan mahasiswa di sini, Mbak. Melengkapi bahan untuk dibagikan saat pulang nanti,” begitu argumennya.
Kedatangan para aktivis kampus ini bukannya tanpa kontroversi. Antara News (Minggu, 1 November 2009) melansir berita penolakan kunjungan BEM Indonesia oleh beberapa pelajar Indonesia di Belanda. Kunjungan ini dianggap tidak bermanfaat dan merupakan bentuk pembungkaman suara mahasiswa. Kalangan internal PPI Wageningen pun mempertanyakan nilai esensial program ini.
“Kita harapkan studi banding ini hanya dilaksanakan tahun ini saja dan hasilnya sudah cukup untuk disebarkan kepada teman-teman di Indonesia,” ungkap Maman Setiawan, mahasiswa program doktoral Ilmu Ekonomi Mansholt Graduate School of Social Sciences, Universitas Wageningen.
Menyikapi respon pelajar Indonesia di Belanda, perwakilan BEM asal Universitas Andalas Padang berujar, “Kami sadar kedatangan kami sulit diterima oleh mahasiswa Indonesia yang ada di Belanda. Tapi kami percaya, di mana ada keinginan, di situ pasti ada jalan.”
Kunjungan singkat BEM berakhir pada pukul 15.30. Langit Wageningen yang mendung mengantar bis yang membawa rombongan meninggalkan Forum Building, membawa kesan dan cerita masing-masing.
Terlepas dari pro dan kontra, kunjungan ini diharapkan memberikan gambaran positif tentang kehidupan mahasiswa di luar negeri yang mungkin dapat diesktrak dan diaplikasikan di kancah kemahasiswaan Indonesia. Tujuannya jelas: Untuk kemajuan, minimal untuk diri mereka sendiri.
Semoga.


Dear PPI Wageningen
Indikator suatu program study banding, tidaklah cukup dengan hanya laporan kinerja yang seperti itu. Untuk mendapatkan pengalaman sebuah aksi demonstrasi, amatlah naif kalau sampai memakan biaya sebesar itu dan disaat permasalahan dalam negeri demikian banyak dan membutuhkan mahasiwa. Apalagi program ini memakan biaya cukup besar. Biaya 1 milyar lebih seperti itu, terlalu naif kalau dibandingkan output yang tidak besar, dan masih memiliki alternatif program lainnya yang lebih cost effectif. Saya berharap artikel yang ditulis saudara Herda Bolly, tidak kehilangan arah dan ide dasar suatu efektivitas program atau project.
Kami tetap konsisten memberikan penolakan terhadap program “Study Plesiran” ini. Saat ini sudah ada 800 mahasiswa dari dalam dan luar negeri yang secara tegas dan kritis menolak progam DIKTI ini. BEM SI secara kelembagaan, melalui Pejabat Pelaksan Koordinator Pusat Isu Korupsi BEM SI juga mengkonfirmasi Penolakan secara lembaga atas Kegiatan ini. BEM UI, BEM ITB, BEM UGM dan BEM Surabaya secara kelembagaan juga menolak tegas program “Study Plesiran” DIKTI ini.
Rekan-rekan bisa mengikuti perkembangan berita ini di facebook group: “Tolak Kunjungan BEM Se Indonesia”. Silakan berkomentar di sana, karena kami dan kawan-kawan lainnya di Nusantara akan mengawal terus Idealisme mahasiswa. Termasuk Idealisme kita sendiri yang sudah memudar dan kehilangan arah. Kunjungan kami di : http://www.facebook .com/#/group. php?gid=16985010 9507&ref=ts
Salam,
Yusrizal Abubakar
STUNED 2008
Admin Facebook Group
“Tolak Kunjungan BEM Se Indonesa ke Belanda”
Dear
PPI Wageningen
Berikut kerangka analisis Process Evaluation utk Project “Study Plesiran” ini, berdasarakan uraian dan laporan artikel Saudara Herda Bolly:
Input
1. Biaya total 1 Milyar lebih utk akomodasi, pesawat, dsb
2. Program yang tidak adekuat
Proses:
1. Diskusi ttg cara demonstrasi selama 1,5 jam (ini yang katanya Study Banding loh, study banding ????, expertise-nya mana?).
2. Pemberian kenangan2
3.Makan Siang
4.Keliling melihat fasilitas kampus (fasilitas kampus bisa dicek via Portal Kampus, bahkan juga perpusatakaan digitalnya bisa di-akses lewat kerjasama kampus kalau mau tanpa harus datang)
Output:
1. Comotan majalah dari majalah pelajar Belanda (WSO) utk dibawa pulang.
2.Output lain tidak jelas
Outcome:
Makin tidak jelas???
Sekali lagi tetap konsiten menolak program “Study Plesiran” ini. Kawal terus idealisme mahasiwa
Yusrizal
Salam Pak Yusrizal,
Terima kasih atas inputnya. Saya mengetahui kiprah Pak Yusrizal dalam menentang kegiatan “studi banding” ini dan saya apresiasi upaya Anda. Tak saya sangkal bahwa ulasan ini masih sangat dangkal dalam mengangkat dan mengulas suatu peristiwa. Namun tujuan penulisan artikel ini “hanya” untuk menyampaikan “mentahan” kunjungan BEM minggu lalu, yang sayangnya mungkin tidak memenuhi ekspektasi Anda dan pembaca lainnya. Lagipula saya teramat yakin, ekspektasi tersebut tidak akan dapat dicapai, sedetil dan sekritis apapun tulisan ini dibuat. Karena sejak awal, kunjungan ini sudah “tidak disetujui”. Anda setuju?
Saya (jujur saja) tidak berminat untuk mengulasnya berdasarkan konsep efektivitas suatu proyek meskipun saya paham apa itu proyek. Silakan kalau rekan-rekan mahasiswa di seluruh Belanda ingin membahas secara konseptual tentang program DIKTI ini. Semoga dengan gerakan penolakan yang kini tengah digencarkan, kegiatan plesiran ini tidak diadakan lagi tahun depan.
Salam,
Herda
“Yang mulai percaya bahwa tampaknya idealisme mahasiswa terjaga hanya selama menjadi mahasiswa.”
hmm, apa beda BEM dgn DPR???
klo DPR msh mending kali ya, bsa buat UU setelah plesiran, klo BEM???
mending uang tsb bwt beasiswa mhswa yg gk mampu..