Tanggap Darurat Badai Angin

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman pribadi saya dan beberapa orang teman saat terjebak di Statsiun Den Haag Central dan tidak bisa pulang kembali ke Wageningen pada hari Kamis, 18 Desember yang lalu berhubung transportasi KA lumpuh akibat badai dahsyat yang melanda Eropa pada hari itu. Kami, rombongan dari Van Hall Larenstein, Wageningen, pada hari itu, sedang melakukan kunjungan studi ke salah satu lembaga penggerak emansipasi wanita di Den Haag. Memang, sejak pagi hari, seperti yang juga terjadi pada hampir seluruh wilayah di Belanda, cuaca sudah tidak bersahabat. Hujan turun dengan deras disertai angin. Namun alhamdulillah perjalanan ke Den Haag menggunakan KA pada siang hari berjalan lancar tanpa hambatan. Kami berhasil tiba dengan selamat di tempat tujuan sekitar pukul 13.00 dan berdiskusi dengan pihak lembaga tersebut hingga selesai sekitar pukul 15.30. Kami bergegas kembali ke Stasiun Den Haag Central dan mendapatkan suasana yang sedemikian ramai dan aura ketegangan tampak memenuhi ruangan dan di wajah para calon penumpang.

Hal yang kami khawatirkan terbukti. Tidak ada KA yang bisa bergerak sejak saat itu. Pengumuman pertama sekitar pukul 16 masih memberi harapan karena petugas mengatakan KA akan kembali beroperasi pada 21 malam. Kami menghabiskan waktu menunggu di tempat pembelian karcis sekaligus menghangatkan tubuh yang mulai menggigil karena dinginnya hembusan angin. Namun sejak pukul 19, pengumuman lanjutan mengatakan bahwa kemungkinan besar tak ada KA yang berangkat hari itu, terutama dengan tujuan Utrecht dan Wageningen karena badai yang melanda wilayah tersebut cukup dahsyat dan berbahaya (memang pada pagi harinya kami melihat di koran ada pohon tumbang yang sampai menimpa
stasiun Utrecht).

Mulai saat itu, kios-kios penjual makanan serentak diinstruksikan untuk memberikan teh hangat, kopi dan roti secara gratis kepada calon penumpang. Ini membuat saya kagum karena petugas bekerja sangat tanggapdan sangat efisien. Tanpa perlu kupon ini itu ala tanggap darurat di Indonesia, tanpa registrasi ini dan itu, tanpa membedakan apakah orang itu punya KTP (alias residence permit) atau tidak, semua calon penumpang yang meminta roti, teh hangat dan kopi mendapatkannya dengan mudah dan nyaman (tanpa perlu merasa diperlakukan sebagai korban pengungsian yang butuh ransum).

Benar saja, selepas pukul 21, pengumuman selanjutnya mengatakan dipastikan tak ada KA yang berangkat ke arah Utrecht dan sekitarnya malam itu. Para calon penumpang yang ingin menginap dipersilahkan untuk naik ke atas bus untuk diungsikan ke Sport Centre terdekat agar dapat beristirahat. Sempat terbersit di pikiran saya dan Lia untuk meninggalkan saja rombongan dan menginap saja di tempat salah satu rekan kami di Den Haag malam itu. Kami sudah menghubungi Mas Ishak dan Rahimah dan mereka mengatakan siap untuk menampung beberapa orang meski tidak bisa menampung semua rekan kami yang total berjumlah 12 orang. Namun, mengingat kami sedang dalam kondisi kritis dan tidak elok untuk mementingkan diri sendiri, kami putuskan untuk tetap bergabung dengan rekan-rekan yang lain dan naik bus untuk diungsikan ke sport centre. Dengan hati was-was kami berharap “barak” tempat kami mengungsi tidak terlalu kumuh mengingat pengalaman di Indonesia tempat pengungsian seperti itu biasanya kumuh dan jorok.

Sampai di sana ternyata dugaan kami meleset. Kami diperlakukan sangat baik, ramah dan santai. Kami dijamu di ruang kafe yang ada di sport centre itu untuk santap malam. Diiringi musik lembut dan sapaan ramah dari para petugas dan relawan yang siaga menggunakan pakaian palang merah. Mereka menanyakan apa saja yang kami butuhkan. Bila kami membuthkan obat-obat tertentu kami dipersilakan meminta kepada mereka. Hidangan yang disajikan amat lengkap. Kami bisa meminta roti, kopi, jus dan teh secara gratis.

Pukul 24, saat beristirahat pun tiba. Tak seperti penyediaan empat tidur ala pengungsi di Indonesia, di sana kami disediakan ranjang lipat lengkap dengan kasur dan selimut tidur di lapangan basket indoor. Meski karena banyaknya pengunjung dan kasur yang tersedia terbatas, terpaksa beberapa calon penumpang tidur beralaskan matras, namun pelayanan yang mereka berikan baik dan ramah sekali. Mereka berkali-kali meminta maaf karena keterbatasan kasur itu sehingga membuat sebagian dari kami merasa tidak nyaman tidurnya. Luar biasa….minta maaf gitu lo…(sense of service nya bagus banget)

Pagi hari, pukul 6, kami dibangunkan dengan cara dihidupkannya lampu lapangan. Tanpa alarm, tanpa pengumuman yang mengagetkan. Dengan sabar, satu per satu, petugas membangunkan beberapa calon penumpang yang masih terlelap untuk segera bangun, membersihkan diri dan berkemas lalu sarapan karena pukul 7.00 pagi bus akan siap mengantarkan kami kembali ke stasiun Den Haag berhubung transportasi sudah normal kembali. Kami diberikan handuk dan sikat gigi untuk mandi dan membersihkan diri. Setelah kembali dijamu sarapan di kafe, kami bergegas ke lapangan parkir untuk kembali ke stasiun menggunakan bus.

Sekitar 10 menit kemudian kami sudah sampai di stasiun di Den Haag Central dan berangkat dengan kereta terpagi, sekitar pukul 7.26 kembali ke Wageningen.

Saya dan Lia berfikir mengapa tanggap darurat di Indonesia tak bisa seperti itu? Apa yang salah dengan sistem tanggap darurat di negara kita?

Semoga kejadian ini bisa menjadi refleksi bagi kita dan perbaikan tanggap darurat pada kemudian hari di Indonesia.

(oleh Saiful Buaykundo)


3 Responses to “Tanggap Darurat Badai Angin”

  1. 1 babe diki

    negara segede donat, plus budget yang gede, ditambah tingkat korupsi yang rendah ya bisa dong begini. lah di Indo…daftar orang mati dan lahir aja masih di di reka-reka di kelurahan…:( akhirnya kan enggak jelas berapa jumlah penduduk kita…entah 200 juta atau 300 juta atau malah lebih..:( . semoga aja pelayanan transportasi di kita makin oke

  2. 2 dwiko

    Di negeri BBM (bener-bener musibah) kalaupun ada bantuan makanan, orangnya rebutan, ndak antri.
    Toko-toko akan segera menggratiskan karena memang dijarah rame-rame, bahkan mungkin baju dan celana pelayannya juga ta luput dari rebutan oleh masa.
    Tenda-tenda pengungsi akan segera didirikan, berupa tenda besar biasanya milik TNI atau bantuan LSM, dengan merek dan logo namanya ta lupa ketinggalan.
    Ranjang digelar pula, tapi karena tidak memadai, jadilah rebutan antar pengungsi. Jatah ranjang yang lain dah di bawa pulang petugas Brandweer, sebagian oleh pak lurah yang punya kos2an di depok atau bantul.
    Transportasi segera disiapkan untuk mengangkut pengungsi, datanglah truk PS120, atau truk TNI bak terbuka berkapasitas maksimum 25 yang diisi jadi 100 orang.
    Handuk juga dibagikan tapi buat giliran, karena jatah satu orang satu tidak bisa dibagikan mengingat para pengungsi tidak bawa KTP. Jadilah sisanya menumpuk di balai kecamatan…..
    Toilet juga dibuat, tapi tidak ada saluran pembuangan, penyakit timbul kemudian.
    Korban berjatuhan tertimpa tower listrik yang roboh bukan saja oleh angin puting beliung tapi juga karena sebagian besinya sudah dicuri orang.

    hmmmmm….., mentalitas pejabat, termasuk PNS, dan mentalitas masyarakat, termasuk LSM, melegitimasi hukum-hukum alam untuk menggantinya dengan generasi yang lain, dalam bentuk bencana. Anda kah generasi itu…?

  1. 1 aaqq|dot|net » bencana.. antara manajemen mulut dan tangan..

Leave a Reply





Subscribe

Subscribe to my RSS Feeds