Winternachten 2007

Van Indië tot Indonesië
Theater aan het Spui en Filmhuis 11-12 Januari

Tuhan belum sempat lagi datang ke sini 

Tuhan sempat singgah di sini
Selama 10 menit
Dan membisikkan kepada Sukarno
agar secepatnya
Membacakan teks proklamasi
 
Saat ini Merdeka!
Sedangkan hal-hal mengenai
Pemindahan kekuasaan
Akan terus diatur kemudian …
 
Setelah itu, Tuhan tersenyum
Ia lalu bermukim di belahan dunia lain
Dan belum lagi tertarik untuk menjenguk
Ke sini…

God heeft nog geen kans gezien opnieuw langs te komen
 
God zag kans  hier langs te komen
Gedurende 10 minuten
Om Sukarno in te fluisteren
dat hij zo snel mogelijk
De onafhankelijkheidsverklaring voor moest lezen
 
Nu zijn wij Vrij!
De zaken betreffende
De machtsoverdracht
Zullen later geregeld worden …
 
God glimlachte
Plaatste zijn zetel in een ander deel van de wereld
En heeft vooralsnog geen interesse getoond Het land
Opnieuw met een bezoek te vereren

(Zeffry J. Alkatiri)

Apa yang terbayang jika menghadiri suatu acara yang berbau Indonesië tempo doeloe di Indonesia? Mungkin sekumpulan opa dan oma dengan rambut keperakan dan jalan terbungkuk-bungkuk tapi pakain netjes rambut berkilau minyak saling memanggil bung dan zus diselipi nederlandse spreken diselingi beradunya gelas wijn.

Itu juga yang terbayang di benak kami berdua ketika akan menghadiri acara van Indië tot Indonesië. Yang kedua, is het programma in nederlands sprekende of Indonesisch of Engels? Setelah email panitianya, Els Bogaert bilang, “Datang sajalah”. O well… maka kamipun, just walk in, tanpa RSVP terlebih dahulu ke acara yang diselenggarakan oleh NIOD ini. Selain KITLV, kami mengenal NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie – dokumentasi perang) sebagai lembaga riset yang berhubungan dengan de Indonesische geschiedenis.

Subuh (07.00) Kamis, 11 Januari 2007, kami berangkat dari Wageningen against all odds, yaitu kantuk, dingin dan angin. Dengan dukungan subsidi transportasi dari PPI Wageningen, kami berangkat ke Den Haag. Pukul 09.10 kami tiba di Den Haag Centraal. Dengan trem 9 kami sampai di halteu Spuit/Stadhuis.

Persis sebelah kanan halteu, terlihat Theater aan het Spui en Filmhuis. O well… ini dia tempat perhelatannya. Terlihat banner Winternachten 2007: internationaal literatuurfestival denhaag. Acara ini tenyata salah satu bagian dari acara seperti pasar malam musim dingin. Setelah membeli tiket diskon untuk student €20/stuk kami pun menuju ke dalam ruangan (Kami pikir gratis, o well… there’s no such a free lunch here, and there). Sudah banyak peserta di sana. Wajah-wajah peneliti, tapi semuanya, sesuai perkiraan kami, sudah sepuh (angkatan oma gue). Tak ada satupun yang kami kenal. O well… lagu Sting putar di kepala: I’m an alien, I’m a legal alien, I’m an Englishman in New York.

Tak lama berselang, Pak Muhajir dari KBRI datang. Kemudian Pak Ajip Rosidi dan rekan datang. Beliau ternyata sudah tidak lagi di Osaka dan mukim di daerah Jawa Tengah (Kendal?). Ibu Johanna, seorang indo dari Perancis bergabung. Tak terlihat mahasiswa seperti kami yang semestinya hadir di sini yaitu studenten van Leiden Uni. Baru setelah rehat kopi kami bertemu rekan-rekan rombongan sandwich program dari Leiden Uni.

Acara tepat dimulai pukul 10.00 di ruangan aula teater. Ruangan berkapasitas tempat duduk 300-400 orang itu terisi ¾-nya. Mengagumkan, walaupun bayar, atas sambutan masyarakat di sini yang menggambarkan ikatan emosional yang kuat dengan eks negara jajahannya. Hampir semuanya orang sini, dan orang Indonesianya mungkin tak lebih dari 15 orang termasuk Pak Taufik Abdullah dari LIPI dan sesepuh yang sudah lama tinggal di sini. 

Setelah sepenggal puisi Zeffry J. Alkatiri dan parade sambutan dari beberapa orang yang berhajat festival inipun mulai bergulir dalam suasana hangat-hangat panas meski diluar gedung teater hujan rintik dan angin yang dingin sanggup membuat sekujur badan gemetaran…

Ada apa dengan ‘Van Indië tot Indonesië?’ Marilah sejenak Kita ikuti alur pikir Els Bogaerts dan Remco Raben (2007) yang menjadi sumber inspirasi tema Winternachten 2007.

Fakta-fakta dekolonisasi Indonesia telah sangat banyak dikatakan dan ditulis, tetapi masih lebih banyak lagi yang tak dikenal, tersembunyi dan terlupakan. Orang-orang Belanda hari ini umumnya tidak begitu tahu ada apa dengan diri mereka pada masa lalu di Indonesia. Sementara orang-orang Belanda lainnya yang masih hidup dalam sejarah ini dapat dikata tidak lagi menghiraukan bahkan menganggapnya bahwa itu adalah bagian dari ‘kisah yang hilang’. Hal yang hampir sama terjadi pada kebanyakan generasi muda Indonesia, juga pada hari ini, mengendap dalam alam bawah sadar keanekaragaman pengalaman sebagai seorang warga negara.

‘Nyanyi sunyi’ atas muatan sejarah ini, apakah karena memang hanya ada jarak geografis yang sangat jauh dari kedua negeri, ataukah mereka punya kesadaran bahwa hidup mereka secara keseluruhan berada dalam dua dunia yang berbeda? Selain itu, sebagaimana diketahui bahwa Belanda sampai saat ini masih belum mau mendengar dengan ikhlas kisah, keinginan, dan tuntutan hak-hak orang-orang mereka yang dulu lama tinggal di Indonesia.

Meski demikian, ada suasana alami yang cukup lain di Indonesia, meski gambaran sejarah sebagian besarnya masih menyimpan misteri, tak dikenal, atau jarang diperbincangkan bagi kebanyakan orang Indonesia. Bagi mereka yang penting saat ini adalah  bekerja keras dan berjuang, mengingatkan kembali dentangan sejarah kata-kata Bung Karno di Lapangan Merdeka 28 Desember 1949, yang dengan lantang masih terngiang-ngiang dalam telinga para Indië waktu itu ‘werken, werken, werken en strijdden, strijden, strijden en een nationale eenheid vormen’. Ya, hari ini, untuk urusan masa lampau itu cukuplah hanya pemerintah Indonesia saja yang bersuara, cukup mereka sajalah yang berpersepsi, kita cuma butuh kerja dan berjuang untuk hidup, hari demi hari.

Orang-orang Indonesia, Belanda dan masukkan pula lainnya seperti orang Eropa yang lain, Cina, India, dan orang Arab telah lama menjalani hidup di bumi Nusantara, di sebuah negeri yang sama, Indonesia. Banyak di antara mereka masih memiliki pengalaman masa silam dan kenangan yang terlupakan. Kehadiran mereka tak hanya soal etnik dan hubungan sosial, tetapi kaya dengan nuansa dan persepsi tentang dekolonisasi, perang dan revolusi kolonial memunculkan kisah-kisah sedih, haru, sebagai penduduk di negeri seribu pulau.

Bagi penggagas hajatan ini, kehadiran kisah-kisah mereka penting untuk mendapatkan tempat yang tepat, karena episode dekolonisasi telah menyebabkan banyak kehidupan manusia diwarnai oleh ragam penafsiran. Boleh jadi bagi mereka, sejarah telah berbohong selama dua atau lebih generasi yang lalu, dan untuk itu hari ini mereka harus banyak bicara. Mungkin di antara mereka merasa asing dan aneh datang ke negeri Belanda untuk secara pedas mengkritik pemerintahan Indië pada waktu itu, tetapi bukankah masih ada kemungkinan bagi setiap yang telah menjadi sejarah kan berubah ke arah ‘sejarah menjadi’?.

Inilah yang menjadi salah satu keseriusan Institut Dokumentasi Perang Nederland (NIOD) dan Yayasan Winternachten. Pencarian data dan informasi ke ‘orang asing’, artikel- artikel koran yang nyaris tak lagi bertulis ditelan zaman, gambar, film tua, berita-berita perjalanan, yang sangat didamba dapat bercerita tentang kehidupan sehari-hari pada babakan sejarah 1930-1960, pada sebuah alur kehidupan di masa-masa yang susah itu. Ada pesan-pesan dari coretan-coretan di dinding, grafiti, peta-peta jalan, angka-angka statistik, majalah, kartun, secarik kertas penuh kisah, surat dan diary yang memberi inspirasi tentang kebenaran meski pemerintah Indië pada waktu itu telah melarangnya dengan keras.

Tinjauan secara menyeluruh terhadap artefak-artefak penuh makna ini tentu saja adalah sebuah tugas yang sangat melelahkan. Tetapi NIOD dan Winternachten merasa ini adalah sebuah panggilan jiwa yang sangat penting dan berharga bagi orang-orang masa kini, orang-orang muda di Indonesia untuk memahami sejarah mereka dengan benar.

Di ‘Van Indië tot Indonesië’ Remco Raben memotret perjalanan panjang kisah dekolonisasi hingga semangat kebebasan dan kemerdekaan rakyat Indonesia, Robert Cribb dengan fakta-fakta kekerasan yang terjadi terhadap orang-orang Belanda dalam masa revolusi sebagai konsekwensi dari semangat sebuah negeri muda yang baru merdeka. Freek Colombijn yang menulis konflik rasialis  dari keberadaan orang Eropa dan Cina pada waktu itu, Bambang Purwanto yang secara luas menuangkan proses perubahan wajah dan pemandangan kota-kota
di Indonesia yang syarat dengan simbol-simbol kolonial yang telah melukai hati orang Indonesia, termasuk perubahan nama-nama jalan yang sempat meyebabkan kekacauan.

Adapula tulisan Ratna Saptari dan Erwiza Erman yang banyak meneropong pergerakan emansipasi hak-hak pegawai dan karyawan yang diskriminatif dalam dunia usaha pada masa-masa peralihan yang sangat kritis itu, perbaikan kondisi kerja mereka dan implikasi politiknya. Dalam ranah ini pula Thomas Lindblad banyak memberikan data-data yang berharga mengenai usaha-usaha pribumi, ada founding father group bisnis Bakry, Poleko dan beberapa nama-nama lain yang bagi kebanyakan orang belum pernah terbaca dalam catatan sejarah.

Panel diskusi yang dimoderatori oleh Paul van der Gaag dengan narasumber Peter Keppy dan Hans Meijers merupakan bagian yang ‘terpanas’ dalam suhu dingin pada sesi hari pertama acara ini. Mengapa tidak, issu lilitan keuangan karena perang dan kolonisasi telah membuat para oma dan opa naik pitam menuntut hak-hak mereka dalam bentuk dana kompensasi, uang tebusan atau backpay sebagai seorang ‘prajurit dan perwira tua’ yang belum dibayar dan terabaikan. Bagian ini memang penuh emosi, sampai-sampai salah seorang opa rela berlama-lama berdiri hanya demi menunggu antrian kesempatan bertanya dan melepaskan unek-unek.

Di samping hasil-hasil publikasi foto dari NIOD, acara Winternachten 2007 ini juga diperkaya dengan koleksi foto dari IPPHOS-Antara oleh Alex Supartono dan Doreen Lee. Ada foto seorang ibu yang dengan kesedihan dan kerinduan memeluk dan mencium lutut Bung Karno, parade laskar bamboe runtjing dari ibu-ibu berkebaya, kesibukan para kuli tinta Indië dalam membuat laporan Perundingan Linggajati 1946, evakuasi orang-orang Eropa pada sebuah kereta api, kegembiraan menyambut datangnya Divisi Siliwangi di Stasiun Tugu Yogyakarta 12 Februari 1948.

Winternachten sesungguhnya adalah nama sebuah Yayasan yang berdiri 11 tahun yang lalu, tepatnya  pada tahun 1995 di Den Haag. Yayasan ini bertujuan untuk mengembangkan jaringan kerja para sastrawan Nederland dengan para kolega mereka dari Indonesia, Suriname, Aruba dan Afrika Selatan. Festival literatur sejenis Van Indië tot Indonesië adalah perhelatan tahunan yang lazim diselenggarakan oleh yayasan ini di samping juga mengenalkan kegiatan-kegiatan serupa di negara-negara yang selama ini menjadi mitra sejatinya semisal Indonesia, melalui kerjasama dengan sejumlah wahana dan organisasi kebudayaan setempat.

Tidak kurang 100 penulis, penyair, musikus, pembuat film serta sejarahwan dari Indonesia, Suriname, India, Afrika Selatan, Mesir, Maroko dan beberapa negara lainnya  diundang dalam acara Winternachten 2007. Mereka berekspresi dan berimproviasi dalam ragam pembicaraan, perdebatan, publikasi, penayangan film dokumenter serta pembacaan puisi dan prosa. Sebut saja nama-nama seperti Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, Nukila Amal, Zeffry Alkatiri, Martijn Apituley, Jos Wibisono  penyair sastrawan dari tanah air; Robert Cribb, Thomas Lindblad, Peter Keppy, Freek Colombijn, Bert Tahitu, dan tentu saja Muhammad Hisyam, Alit Djojosoebroto, Bambang Purwanto serta Taufik Abdullah dari kelompok ahli sejarah kolonialisme; Cees Noteboom, Rustum Kozain, Thomas Rosenboom, Adriaan van Dis, Estrella Acosta, Alaa Alwasny, dan Lieve Joris dan Remco Raben mewakili  seniman dan pembuat film sejarah; rombongan penyair seniman Maroko Abdelkader Benali, Laila Lalami, Majid Bekkas, Fouad Laroui, yang mencuatkan tema-tema kebudayaan Berber pada Winternachten kali ini, duo penyair religius Suriname, Sombra dan Changa Hickinson hingga penulis sejarah Islam terkini Karen Armstrong turut hadir beserta sejumlah karyanya yang menghiasi kegiatan publikasi dan penjualan buku Winternachten 2007.

Orang-orang Indonesia yang diundang dalam gawean ini sebagian besar menuangkan hasil renungan mereka dalam ‘Batavia tot Jakarta in Proza en Film’ termasuk Nukila Amal, sang penulis muda yang bertutur melalui pelajaran-pelajaran kolonialisasi yang dirasakan dari seorang ayah. Zeffry (Jeffry) Alkatiri yang mengajak khayalan kita berkelana melalui antologi puisinya ‘Dari Batavia Sampai Jakarta 1616-1999’, sebuah karya yang membawanya memperoleh Khatulistiwa Award pada tahun 2002, atau ‘Dari Keroncong Sampai Dangdut’ kata The Jakarta Street Band yang turut meramaikan acara ini dengan hiburan musiknya yang khas Indonesië.

‘Van Indië tot Indonesië’ atau ‘Dari Batavia Sampai Jakarta’ atau  ‘Dari Keroncong Sampai Dangdut’, semuanya memberi pelajaran dan hikmah, sebagaimana pelajaran dari seorang Ayah bagi seorang Nukila Amal:
…Mari ke laut, anakku. Kini saatnya. Kurasa mereka sudah dekat. Aku
bisa mendengar gema suara mereka terbawa angin subuh. Dengar, dini
hari ini angin tidak berdesir, tapi suaranya seperti sayatan sepanjang
jalan. Jendela kayu berderit ngilu olehnya, daun pintu mendesiskan
retak, menangkupkan dingin ke dalam rumah. Lilin tercakar: sebentar ia
berkobar, sekejap ia mengerjap-ngerjap. Gelap ingin masuk merasuk-rasuk…

Laluba, 2005

(Salam hangat dari Kami Berdua…
Nasrum & Muchtar)


1 Response to “Winternachten 2007”

  1. 1 Herman & Lydia

    Secara kebetulan, saya buka situs ini. Buat saya, dan istri, artikel ini menarik, karena: istri sangat menyukai sejarah, dan almarhum ayah dan ibu termasuk ke dalam golongan mereka yang mengalami pahit-getir dan manis-gurihnya jaman revolusi fisik doeloe. Banyak teman mereka, baik yang Belanda totok atau indo, masih saya ingat wajahnya. Karena mengenal mereka ketika saya masih kecil, tentu saja hanya kenangan manis yang masih melekat di hati. Satu nama yang saya masih ingat, dan berusaha saya cari kontak sampai sekarang, adalah van Drenth. Ex KNIL yang kemudian menjadi TNI di Bandung, tetapi akhirnya terpaksa pulang (atau pergi, karena sebetulnya keluarga itu belum pernah tinggal di Belanda)pada sekitar tahun 1955an, karena tidak tahan dengan sikap pemerintah dan sebagian rakyat kita terhadap orang-orang Belanda. Menurut kabar, keluarga van Drenth yang berputera 5-6 orang ini (pernah)tinggal di Delft.
    Ikatan emosi kami dengan Belanda juga terjalin karena kakak perempuan (beda ibu) tinggal di Oegstgeest dan kawin dengan Hollander.
    Kerjasama institusi saya dengan Belanda menyebabkan kami dan anak-anak beberapa kali berkunjung ke Belanda, hingga kami memiliki banyak sahabat keluarga Belanda. Kunjungan kami terakhir beberapa hari yang lalu, seperti biasa, selalu berkesan. Apalagi setelah menikmati Pasar Malam Tong Tong (yang tidak pernah bosan kami kunjungi).
    Pasar Malam, acara-acara reuni kelompok-kelompok semacam Winternachten, dan sebagainya, untuk sebagian orang boleh jadi dirasakan artifisial, absurd, kekanak-kanakan, tapi bagi kami, itu semua mengesankan, nostalgik. Biarlah itu terus berlangsung. Meski secara fisik tidak pernah mengalami ‘jaman Belanda’, namun kami bisa merasakan indahnya masa itu. Bahkan kegetiran pun setelah lama terlampaui, akan terasa begitu indah……

Leave a Reply





Subscribe

Subscribe to my RSS Feeds