Select a page

Antara coto Makasar dan palu basa

Pernah mencoba coto Makassar? Daging berkuah dengan racikan bumbu nusantara yang mmm Indonesia Timur banget dah. Di Makassar, Sulawesi Selatan, coto Makassar menjadi ikon kuliner. Coto ini bahkan mudah ditemui dimana-mana. Di warung tenda, hotel, rumah makan antar kota atau bahkan di dapur-dapur penduduk. Tiada hari tanpa coto. Bila disajikan, daging yang dipotong bentuk dadu ini, tenggelam dalam kuah yang berwarna coklat, hasil campuran bumbu kacang, bawang, kemiri sangrai, sereh dan sebagainya. Coto disantap bersama ketupat atau nasi dan jangan lupa perasan jeruk. Hasilnya? Yummy. Tapi itu kan di Indonesia, gimana di sini? Di Wageningen?

Coto itu ternyata ada di dapur Bornsesteg. Dihadirkan pada tanggal 29 Januari. Tentu saja,coto ini seperti melekatkan kembali lidah Indonesia. Bumbu di racik oleh Hadijah Azis, rekan mahasiswa Wageningan yang berasal dari Sulawesi Selatan yang berulangtahun di hari sama. Tak kurang dua puluhan mahasiswa Indonesia merubungi coto itu dan menjadikan ruang 16 meter persegi milik Hadijah menjadi ‘Indonesia baru’, aromanya, rasanya, bahasanya dan segala rasa Indonesia ada di saat itu.

Rasa kenusantaraan itu bertambah dengan dua menu berbeda lainnya, ikan bakar khas Makassar dan pallu basa. Sekilas, kuah coto makasar sama dengan pallu basa, tetapi setelah dinikmati, ternyata berbeda. Coto Makassar menggunakan bahan dasar kacang goreng yang dihaluskan dan direbus bersama daging hingga empuk. Sedang pallu basa menggunakan kelapa parut yang disangrai dan di tumbuk hingga menghasilkan minyak yang berbau wangi. Cara penyajiannya pun berbeda. Coto makasar disajikan dengan irisan daun bawang, seledri, bawang goreng dan perasan jeruk nipis, sedang semangkok pallu basa dihidangkan bersama kuning telur ayam kampung mentah yang dikocok langsung dalam mangkok tersebut. Pallu basa bisa dihidangkan bersama nasi, dan coto bersama ketupat (meski sebagian menggunakan nasi sebagai pelengkap).

Sejumlah data menuliskan bahwa coto Makassar merupakan makanan berkuah yang menjadi turunan soto-soto lainnya. Coto Makassar dinyatakan sebagai makanan tertua di nusantara. Aslinya, daging coto di masak bersama 40 ramuan bumbu di kuali yang terbuat dari tanah. Mengapa tanah? Tanah dipercaya membuat aroma menjadi kuat dan kuah menjadi lebih lezat. Coto menjadi menu yang juga dihidangkan sebagai sarapan pagi para pengawal kerajaan Somba Opu, Gowa, Makassar. Selanjutnya para pelaut yang hidup di kerajaan Somba Opu mengenalkan coto ini di belahan wilayah lainnya. Coto kemudian mengalami akulturasi rasa di daerah setempat dan pada akhirnya, hari ini kita mengenal sejumlah jenis soto-soto (tak lagi disebut coto), seperti seperti soto babat Madura, soto Tegal dan soto Betawi.

Bagaimana dengan pallu basa yang juga memiliki kuah sangat kental dan gurih? Sampai sekarang belum diketahui sejak kapan pallu basa pertama kali dihidangkan di kalangan suku Bugis. Pallu basa yang artinya makanan basah atau berkuah memang tidak setenar coto makasar, tetapi soto ini memiliki tempat di hati para penggemarnya.

Nah mau menikmati coto? Datang aja ke Wageningen….

——————-

Sumber: http://southcelebes.wordpress.com/2008/09/10/coto-makassar-makanan-khas-orang-makassar/

Sumber foto: Andriani Anwar

2 Comments

  1. DJ Monday January 31st, 2011 Reply

    Makasih ya mbak Sasi, udah ditulis tentang coto makasaar dan Pallubasa. Nti cerita kondro dan sop sodara menyusul ya;-)

  2. admin Monday January 31st, 2011 Reply

    Wah, tak tunggu masakan kondro dan sop sodara-nya ya….
    Kapan?? hehehe

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*