Select a page

Dialog bersama Wapres Boediono

jumpa Boediono

Pada Rabu 26 Maret 2014 bertempat di Hotel Hilton Den Haag, masyarakat Indonesia yang berada di Belanda berkesempatan untuk berdialog dan ramah tamah dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono. Kunjungan Wapres ke Belanda dalam rangka menghadiri KTT Keamanan Nuklir ke 3 yang berlangsung di Den Haag selama 2 hari sebelumnya.

Berbagai elemen masyarakat Indonesia yang ada di Belanda, termasuk perwakilan para mahasiswa dan pelajar hadir dalam acara ini. Perwakilan PPI Wageningen yang mengikuti jalannya dialog akan mencoba berbagi cerita.

Wapres menyatakan dalam sambutannya bahwa hubungan Indonesia dan Belanda berada pada saat yang terbaik (comprehensive partnership). “Jangan terkungkung oleh sejarah, karena masa depan lebih berati,” lanjut Wapres. Kita semestinya bisa menjadikan latar belakang sejarah Indonesia dan Belanda sebagai sumber kedekatan. Bagi Belanda sendiri, Indonesia merupakan pintu gerbang untuk menjangkau pasar di kawasan ASEAN. Terlebih akan segera berlakunya ASEAN Community.

Kemudian Wapres menyinggung tentang perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia, mengingat sebentar lagi akan berlangsung PEMILU. Beliau menekankan bahwa proses demokrasi akan terus berlangsung (democracy is always in progress). Indonesia telah melewati masa transisi demokrasi dan sedang mengalami masa konsolidasi. Demokrasi di Indonesia yang terbuka berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengisolasi pihak-pihak yang tidak setuju (inclusiveness spirit).

Kepada para mahasiswa dan pelajar, Wapres memiliki pesan tersendiri. Beliau meminta para mahasiswa dan pelajar Indonesia di Belanda untuk mempelajari ilmu secara menyeluruh (jangan hanya mempelajari satu macam ilmu) supaya pemikiran kita bisa berimbang. Contohnya seorang mahasiswa ekonomi sebaiknya juga mempelajari ilmu politik, sosiologi, filsafat, dll. Pesan ini beliau peroleh tahun 1960-an dari Moh. Hatta yang mengatakan, “Jangan sempitkan pandangan, belajarlah semua ilmu yang relevan.” Wapres menekankan pesan ini karena kadang-kadang konsep bagus di atas kertas belum tentu bisa diaplikasikan di masyarakat tanpa memperhitungkan aspek sosialnya. Bagi Wageningen University, pemikiran ini mungkin sudah terbiasa dilakukan dengan konsep transdisciplinary approach-nya atau beta-gamma science.

(Yulis Anggunita)

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*