“Kursus Bahasa Belanda untuk pelajar Indonesia”
0 Comments Published by admin June 11th, 2009 in Berita.Oleh Niken Puspita
“Those who know nothing of foreign languages know nothing of their own.” (Johann Wolfgang von Goethe)
Quotation di atas ada benarnya juga. Dengan belajar bahasa lain, secara tidak langsung kita jadi lebih mengerti mengenai budaya sendiri. Ini juga yang mendasari beberapa pelajar Indonesia di Wageningen untuk belajar bahasa Belanda. Belajar dan tinggal di negeri orang selama paling tidak 2 tahun, tidak ada salahnya untuk belajar bahasa mereka, walaupun dalam kuliah dan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.
Keinginan ini bersambut dengan kebaikan hati Mba Adi yang sudah tinggal dan menetap lama di Belanda dan berkesempatan belajar secara formal bahasa Belanda yang diadakan oleh pemerintah se- tempat. Mba Adi yang juga dikenal sebagai Bunda Adhel ini menyempatkan diri di tengah kesibukannya sebagai Ibu RT dan pelajar untuk membagikan ilmu dan mengajarkan dasar-dasar bahasa Belanda tiap minggu selama kurang lebih 2 jam. 
Dimulai sejak 17 Oktober 2008 lalu dengan 7 orang yang bergabung dan kebetulan kesemuanya adalah perempuan, kelas bahasa Belanda ini mengalami pasang surut anggota karena kesibukan belajar para anggotanya. Hingga saat ini jumlahnya menjadi 5 orang dengan tambahan Ahmad – sang lelaki yang bergabung awal tahun ini dan menjadi idola bagi anggota perempuan lainnya. Anggota lainnya adalah Novi, Rara, Ndita dan Niken, dan anggota yang ‘gugur’ sepanjang perjalanan karena kesibukan belajar (atau kesibukan lainnya?) adalah Merry, Mba Cia, Yessy, Prima, Dita dan Diah.
Kediaman Mba Adi di Hoevestein menjadi kelas kami tiap minggu. Selama pelajaran, alhasil Adhel diasuh oleh sang Ayah – mas Hady, yang terungsikan ke dalam kamar. Kelas ini berjalan penuh dengan dinamika, metode yang diterapkan oleh Mevrouw juga tidak dibuat kaku – namun tetap mengikuti alur metode pembelajaran bagi beginner. Prinsipnya, pelajaran ini tidak boleh membebani, karena tugas utama tetap belajar untuk kuliah masing-masing.

Dibumbui oleh cerita-cerita sehari-hari mengenai budaya dan kebiasan orang-orang Belanda, kunjungan ke tempat menarik seputar Wageningen, dan yang paling seru adalah selingan penganan ringan hasil dapur sang guru yang terkadang unik, menarik, dan pasti uenak tenan. Di awal bulan Desember, Mba Adi mendatangkan Jannie Jansma – sang native speaker yang sekaligus pengajar dari ROC A12– sebagai guest lecturer kami. Beliau memberikan tips-tips praktis dalam berbahasa Belanda, dan memberikan links khusus bagi kami untuk dapat self study dalam belajar bahasa Belanda. Tentu saja apa yang diajarkan sangat membantu dalam berkomunikasi dan memahami hal-hal yang ditemui di kampus ataupun di pasar. ”Kalau kita berbelanja di pasar dan kita berkomunikasi dengan bahasa Belanda, kita merasa jadi lebih berbaur dengan mereka,” ungkap Ndita yang punya julukan si Upik Abu. Lain lagi yang diungkapkan Rara si pemilik dapur gothic, ”Belajar bahasa Belanda bisa menjadi satu cara untuk bisa masuk ke teman-teman Belanda, mereka menjadi lebih menghargai dan juga ikut membantu, mengajarkan dan berkomunikasi dalam bahasa Belanda.”
Tidak terasa kelas ini telah berjalan selama kurang lebih 8 bulan. Sungguh beruntung angkatan kami karena bisa mendapatkan pelajaran bahasa Belanda secara gratis, sebelum sang guru akan kembali ke tanah air akhir tahun ini. Terima kasih, Mba Adi. Paling tidak kelak kami pulang ke Indonesia tidak hanya bergelar Master di bidang kami masing-masing, tapi juga Master of Dutch, melengkapi master-master kami lainnya – Master of Travelling, Master of Cooking dan Master of Sports.
Cat : bagi yang berminat mengkopi materinya bisa diperoleh lewat Pengurus PPI angkatan 2008 dengan Rara Diantari atau Niken Puspita.
Oleh: Radi Negara
Di antara akhir musim semi dan awal musim panas 2009, para pelajar Indonesia di wageningen kembali berkumpul bersama. Seperti biasa acara bertempat di kediaman bapak hady di hoevestein yang sudah menjadi rumah kedua bagi setiap generasi ppi wau. Sesuai namanya acara ini berlangsung untuk menjaga rasa ikatan kekeluargaan antara setiap warga Indonesia di kampung wage tercinta.
Kita juga kedatangan tamu yaitu mba Siska dari Neso Indonesia, dan beberapa rekan dari negara lain yaitu Joeri, Olga dan Vincent. Setelah menunggu lama bakar sate ayamnya, acara dimulai dengan sesi tanya jawab dengan mba siska dan dilanjutkan dengan games semacam ular-ularan dan yel-yel dari setiap kelompok.
Setelah berlelah bermain dan bernyanyi yang diisi juga oleh Joeri yang menyanyikan lagu Jogjakarta dari Kla Project, acara makan-makan dengan menu sate ayam, sayur asem dan ikan (apa ya, pokoknya mantaplah) yang ditunggu-tunggu dimulai. Namun belum separuh para warga mendapatkan jatah, hujan turun dan pestanya bubar.
Tapi bukan ppi wau jika kalah dengan hujan, acara tetap meriah di dalam rumah mba adi dengan bergosip ria tak terkecuali bapak-bapak di pojokan. Acara paling panas berlangsung di dapur dengan bintang utama bang rizal dengan cengkok merdunya diiringi petikan gitar bang lukman yang khusus didatangkan dari nijmegen guna menghibur para gadis pencuci piring.
Sehabis hujan reda, acara kembali berlanjut di luar dengan foto bersama dan kuis dengan beberapa pertanyaan dari mba siska dan panitia. Masboi sang sekjen PPI Belanda pun ikut memberikan beberapa pertanyaan berbobot, namun para warga yang notabene mahasiswa master dan PhD rupanya sedang benar-benar melupakan kuliah sehingga lebih antusias menjawab pertanyaan pemilik koin, kartu dan kunci terbanyak di tas, dompet dan saku celana. Para pemenang kuis juga diberikan hadiah-hadiah manis dari ppi wau.
Akhirnya acara ditutup dengan kembali bernyanyi dan iringan merdu gitar masboi pertanda hari yang menyenangkan bagi setiap warga ppi wageningen.
Oleh: Affan Nurachman, Laurensia Yuniati dan Sepus Fatem*
Salam Olah raga,
Berpartisipasi pada Groenscup yang diselenggarakan oleh PPI Groningen pada 9 – 10 Mei 2009, PPI Wageningen menurunkan atlet terbaiknya untuk menguji kemampuannya di cabang Badminton tunggal dan ganda, tennis meja tunggal, catur cepat, dan Futsal.
Briefing sebelum keberangkatan dengan menargetkan prestasi yang lebih baik dari partisipasi tahun lalu telah dicanangkan, mengingat tahun ini adalah tahun kedua PPI Wageningen berpartisipasi di Groenscup. Berangkat dipagi hari dengan penuh percaya diri dari Wageningen yang didampingi supporter setia (Pak John Pakereng, Mba Alfi, dan Mba Rani yang menyusul kemudian) membuat tim PPI-W sangat optimis untuk meraih hasil terbaik.
Continue reading ‘Perjuangan Kontingen PPI-WAU di Groenscup’









