Select a page

Indonesian Kitchen : Enak!

oleh : Herda Bolly

Wageningen – “Lapar? Kenyang? Enaaaakkkk!” Kata-kata khas Indonesia ini bergaung dalam gedung KSV St. Franciscus Xaverius, yang beralamat di Stadsbrink 373, 6707 AA, Wageningen. Malam itu, Kamis 4 November 2010,hall gedung berkapasitas kurang lebih 100 orang tersebut dipenuhi pengunjung yang sebagian besar adalah mahasiswa internasional Wageningen University (WUR). Mereka khusus datang untuk menghadiri acara makan malam yang diselenggarakan oleh PPI Wageningen bekerja sama dengan Erasmus Student Network (IxESN). Ya, dengan mengeluarkan dana sebesar 5 euro untuk anggota IxESN dan 6 euro untuk non-anggota IxESN, mereka bakal disuguhkan menu-menu khas Indonesia yang lezat. Tingginya antuasiasme para mahasiswa bule ini tak kurang mengundang keterkejutan panitia acara yang bertajuk “Indonesian Kitchen” ini.

“Tadinya saya mengira acara ini akan dipenuhi mahasiswa asal Indonesia. Ternyata banyak sekali teman-teman internasional yang datang. Terima kasih banyak atas antusiasme kalian.” Demikian sambutan Stephanie Sonya Ramali (Sonya), mahasiswi Food Technology WUR yang malam itu bertindak sebagai pemandu acara.

* * *

Tepat pukul 8.30 malam, acara dibuka dengan presentasi seputar kuliner Indonesia yang disajikan dengan apik oleh Fenni Rusli, mahasiswi Nutrition and Health. Dengan piawai Fenni memaparkan ragam masakan khas nusantara termasuk soto Surabaya, masakan berkuah yang malam itu dijadikan menu pembuka (appetizer). Mira Mutiyani, “chef” yang bertugas memasak soto Surabaya mengemukakan alasan sederhana dipilihnya soto ini di antara aneka jenis soto Indonesia.

Kiri : Suasana Indonesian Kitchen. Kanan : Tim Indonesian Kitchen (Foto: Wahyu Dewi).

Because it is very delicious! You will like it!” ujarnya sambil tersenyum manis. Ucapan Mira terbukti benar. Mangkuk berisi soto tandas disantap pengunjung. Namun soto Surabaya tentu saja barulah permulaan. Menu utama nasi rames yang terdiri dari sate ayam Madura, tempeh kering, telur balado, sayur tumis bumbu acar, dan tentu saja nasi putih, sudah menanti untuk disantap. Menu ini ditata rapi dan disajikan cekatan oleh beberapa rekan-rekan PPI Wageningan yang bertugas menjadi “waitress” dadakan. Tapi jangan salah! Meskipun bukan waitress profesional, rekan-rekan kita ini terbukti cekatan menyuguhkan menu hingga tidak ada tamu undangan yang harus menunggu lama dengan perut keroncongan. Penulis pun kebagian sepiring nasi rames nan gurih yang mengingatkan penulis dengan nasi rames ala warteg khas Indonesia yang terkenal populer di kalangan mahasiswa. Rupanya bukan hanya penulis yang menikmati lezatnya nasi rames. Para bule pun asyik menyendok piring masing-masing sambil ngobrol riuh rendah. Keriuhan obrolan mereka sempat terpotong ketika Sonya sang MC menyampaikan protesnya lewat pengeras suara.

“Saya lihat masih ada yang menggunakan pisau untuk makan. Use fork and spoon only, please.”

Ya, pisau bukanlah alat makan yang lazim dipakai orang Indonesia untuk menikmati santapan. Bahkan kalau boleh dibilang, nasi rames paling afdol dinikmati dengan menggunakan tangan kosong, tanpa sendok dan garpu. Hanya saja, sulit membayangkan para bule ini menjumput nasi dengan jari-jemari mereka.

* * *

Puas melahap nasi rames, para tamu masih dimanjakan dengan dessert jajanan khas Indonesia: pisang goreng! Sebelum pisang goreng disuguhkan, kembali Fenni menjelaskan popularitas jajanan pasar ini di Indonesia.

“Pisang goreng sangat populer di Indonesia. Kami menggunakan jenis pisang tertentu untuk digoreng.” Ujar Fenni sembari menambahkan Indonesia memiliki beragam jenis pisang. Seusai presentasi singkat tentang pisang goreng, kembali para waitress dengan cepat menyajikan pisang goreng di atas piring kecil ditemani sebuah garpu. Menariknya pisangnan gurih ini dibubuhi saus caramel kental dan manis yang tentunya menambah kelezatannya. Pengunjung pun lahap menikmati pisang goreng sambil bersenda-gurau. Sesekali di sela-sela acara makan, mereka dihibur oleh live performance yang dibawakan oleh penulis diiringi petikan gitar cozy oleh Probo Nugrahedi, mahasiswa doktoral Food Technology. Meskipun sebagian besar tamu yang nota bene adalah bule tidak memahami lirik-lirik lagu yang didendangkan, setidaknya mereka tampak menikmati mendengarkan lagu-lagu artis Indonesia populer ala Andra and the Backbone (Sempurna) dan Balawan (Semua bisa bilang).

* * *

“Apa nama makanan hasil fermentasi khas Indonesia?” Tanya sang MC. Seorang gadis berwajah latin mengacungkan tangan dan berteriak.

“Tempe!!” Senyumnya merekah menerima hadiah dari MC: 3 tusuk sate Madura!

* * *

Acara malam itu diakhiri menari poco-poco ala kadarnya namun dipenuhi suasana meriah yang lebih dari sekedar ala kadar. Tak kurang pula rasa haru ketika acara Indonesian Kitchen ini juga mampu menggalang dana untuk saudara-saudara kita, korban letusan gunung Merapi. Menarik mengetahui bahwa sukses acara Indonesian Kitchen ini menarik animo mahasiswa dari negara-negara lain untuk mengadakan acara serupa. Mahasiswa asal Meksiko menyatakan ketertarikannya bekerja sama dengan IxESN untuk menggelar Mexican dinner.

* * *

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam ketika satu persatu para tamu meninggalkan gedung KSV. Masing-masing pulang dengan membawa cerita dan tentu saja perut kenyang; pun penulis. Sisa malam itu penulis habiskan untuk mencari resep soto Surabaya di blog-blog kuliner. Timbul sedikit rasa penasaran, mungkinkah para bule pun tengah melakukan hal yang sama? Bisa jadi! After all, this is Indonesian Kitchen!Herda Bolly

Foto : Courtesy Wahyu Dewi

Special thanks: Tim masak PPI, Steisiana Mileiva dan Shindi Indira.

1 Comment

  1. Herda Thursday November 25th, 2010 Reply

    Admin, nama gw Herda, bukan Herday..ahahahaha!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*