Select a page

Lingkar Inspirasi 5: Ketahanan Pangan Indonesia

Kegiatan Lingkar Inspirasi oleh PPI Belanda telah diadakan Sabtu, 23 Februari 2013 lalu, bekerja sama dengan PPI Wageningen dengan mengangkat tema “Ketahanan Pangan Indonesia”. Acara ini diisi dengan presentasi oleh dua orang pakar di bidang pertanian  Shinta Yuniarta, MSc dan Dr. Ir. Hamim, M.Si dan dimoderatori oleh dosen Institut Pertanian Bogor, Thomas Nugroho, S.Pi, M.Si.

Presentasi pertama dibawakan oleh Shinta Yuniarta, MSc, kandidat Doktor dari Wageningen University and Research Centrum (WUR) mengenai Sustainability pada Ketahanan Pangan. Pada presentasi ini, Shinta lebih memfokuskan diri pada bidang perikanan.

Di dalam lingkup bahan makanan, ikan merupakan makanan yang sehat untuk dikonsumsi karena kandungan asam amino lengkap dan juga asam lemak omega 3 dan 6. Lebih dari 70 persen luas daerah Indonesia ialah laut, menjadikan komoditas perairan salah satu potensi yang perlu untuk dikembangkan. Ketersedian ikan sebagai pangan dapat menunjang ketahanan pangan nasional.

Secara garis besar perikanan dibagi menjadi dua jenis yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Shinta menuturkan bahwa perkembangan industri perikanan tangkap dan budidaya di Indonesia menemui beberapa hambatan. Untuk perikanan tangkap, saat ini tingkat eksploitasi sudah cukup tinggi sehingga justru kita saat ini harus mengurangi volume penangkapan beberapa jenis ikan untuk menjaga kelestarian spesies ikan tersebut. Akses pemasaran juga menjadi kendala yang signifikan. Adapun untuk perikanan budidaya, terbatasanya lahan, penyakit, tingginya biaya produksi, dan mutu ikan adalah masalah yang tidak bisa diabaikan.

Di akhir presentasinya, Shinta mengutarakan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh konsumen untuk mendukung keberlanjutan (sustainability) perikanan dalam rangka menopang ketahanan pangan nasional di Indonesia. Ia menekankan pentingnya kita mengenali ikan yang kita makan. Salah satu caranya ialah memperhatikan label produk makanan yang mengandung ikan. Beberapa perusahaan telah mencantumkan label yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah menganut responsible fisheries.

Sesi kedua dibawakan oleh Atase Pertanian Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, Dr. Ir. Hamim, M.Si. Beliau menyampaikan mengenai pentingnya ketahanan serta kedaulatan pangan bagi keberlangsungan bangsa dan negara.

Hamim memulai dengan mengemukakan alasan mengapa pertanian menjadi kurang popular, terutama bagi mahasiswa untuk dipelajari. Menurut Hamim, hal ini disebabkan oleh persepsi sebagian besar orang yang selalu mengidentikan pertanian dengan “kambing dan sapi”.  Adalah fakta adanya ketidaktahuan banyak orang bahwa bidang pertanian juga adalah merupakan lahan bisnis yang menjanjikan.

Jika dilihat lebih lanjut, ternyata potensi Indonesia dalam bidang pertanian sangat besar karena banyak didukung oleh faktor internal seperti iklim yang cocok, sumber daya yang memadahi, serta banyaknya tanaman komoditas ekspor penting yang berasal dari Indonesia seperti sawit, kakao, kopi, kelapa, karet, lada, vanili, dan rempah-rempah. Dari beberapa komoditas tersebut, jumlah produksi dari Indonesia masih berada di posisi atas di antara negara-negara lain di dunia.

Pertumbuhan produksi komoditas di dunia mengalami penurunan sehingga hal ini merupakan peluang bagi Indonesia. Pasar global menjadi semacam pisau bermata dua, di mana apabila kita tidak siap dalam menghadapi tantangan tersebut maka kita sendiri yang justru akan mengalami kerugian. Hamim juga mendorong pengembangan value chain untuk meningkatkan keuntungan secara ekonomis.

Regulasi mengenai pertanian kita menyebutkan, bahwa pangan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya adalah hak azasi dan tidak bisa ditunda, dan tidak bisa disubstitusi dengan bahan lain (Perpres No. 5 – 2010 tentang RPJMN 2010-2014). Untuk mencapai ketahanan pangan, tidak hanya diperlukan sumber daya dan kondisi lingkungan yang kondusif, namun kebijakan mengenai ketahanan pangan nasional diperlukan untuk misalnya menjaga stabilitas harga komoditas pangan dan melindungi petani serta konsumen. Indonesia, papar Hamim, merupakan salah satu negara di dunia yang berhasil dalam melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas harga komoditas pangan.

Berbicara mengenai swasembada pangan, komoditas vital seperti beras sudah dapat dipenuhi di dalam negeri. Namun demikian untuk komoditas lain yang tidak kalah penting, Indonesia masih tergantung dari impor. Permasalahan impor bahan pangan selalu menjadi polemik di dalam negeri. Hamim menjelaskan bahwa pengambil kebijakan kesulitan dalam mencegah impor karena tidak mudah menentukan cadangan nasional yang banyak diantaranya berada di lumbung-lumbung petani yang tidak tercatat. Selain itu adanya even tertentu yang membuat konsumsi pangan di Indonesia meningkat tajam, seperti pada saat hari raya.

Banyak tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia. Pertanian bukan merupakan industri yang mandiri karena membutuhkan dukungan dari lintas sektor. Hamim memberikan contoh bahwa setiap kilogram beras membutuhkan 4.500 liter air. Permasalahannya ialah waduk di Indonesia hanya berfungsi sekitar 50% yang membuat hal ini menjadi sulit. Terbatasnya jumlah panen dalam setahun juga merupakan tantangan tersendiri. Partnership antara petani dengan pihak swasta seharusnya diwujudkan. Selama ini petani kurang bisa menikmati hasil dari panen mereka karena adanya pihak ketiga (kolektor, tengkulak). Dengan memperkuat hubungan petani dan swasta, diharapkan petani dapat meningkatkan pendapatannya.

Pada sesi tanya jawab, peserta mengikuti dengan penuh antusiasme. Salah satu peserta memberikan komentar menarik namun kontroversial mengenai sistem ketahanan pangan di Indonesia yang dianggap salah. Menurutnya, konversi lahan pertanian adalah hal yang positif, sehingga para petani dapat meningkatkan pendapatannya. Lebih lanjut lagi, sebenarnya Indonesia tidak pelu berusaha untuk meraih swasembada pangan, merujuk pada Belanda yang banyak komoditas pangannya diperoleh dari impor. Hal tersebut ditampik oleh pembicara yang menurutnya itu akan berbahaya karena hal ini tidak hanya menyangkut masalah ekonomi, namun juga politik.

Diskusi lainnya ialah mengenai kesejahteraan petani, di mana banyak keuntungan yang didapat dari penjualan komoditas pangan justru tidak banyak didapat oleh petani itu sendiri. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan membentuk kemitraan dengan pihak swasta sehingga diharapkan petani bisa lebih maju dan mampu mengembangkan value chain yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani tersebut.

Dengan adanya kegiatan Lingkar Inspirasi ini, diharapkan kita dapat memperoleh manfaat, dan kita mendapatkan gambaran mengenai kondisi pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia. Kita berharap agar pengetahuan ini bisa menjadi awal bagi kita untuk berkontribusi dalam mengembangkan Indonesia menjadi lebih baik, terutama di bidang pertanian. [Kontributor: Perdana Samekto TS]

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*