Select a page

Muhammad Asrullah: Menyorot pentingnya mental health awareness pada remaja Indonesia

Dikenal sebagai Universitas pertanian terbaik di dunia, Wageningen University and Research (WUR) menawarkan berbagai macam program pendidikan yang tidak melulu berfokus pada ilmu pertanian. Profil PhD kali ini menyorot Muhammad Asrullah, atau yang akrab disapa Asrul, mahasiswa doktoral di WUR yang tergabung dalam program studi Global Nutrition, dibawah Department of Agrotechnology and Food Science. Asrul merupakan alumni program studi Ilmu Gizi dari Universitas Hasanuddin, Makassar, dan mendapatkan gelar masternya dari program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selesai menempuh Pendidikan Magister di tahun 2015, Asrul tergabung menjadi salah satu peneliti di Lembaga Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di bawah Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM).

Asrul mengutarakan tentang bagaimana studi Ilmu Gizi dan pertanian yang berkembang pesat di Eropa merupakan satu alasannya dalam memilih WUR sebagai kampus studi. Hal lain yang tak kalah penting adalah fakta bahwa pembimbingnya saat ini merupakan seseorang dengan fokus penelitian yang relevan dengan lingkup penelitiannya. Peneliti yang publikasinya sudah banyak dia sitasi jauh sebelum menjadi mahasiswa doktoral disini. Asrul menegaskan bahwa bidang keahlian pembimbingnya yang relevan tersebut adalah alasan utamanya memilih menempuh Pendidikan doktoralnya di Wageningen University, selain nama besar WUR yang sering dikaitkan dengan universitas unggulan di Eropa, bahkan dunia.

Kesehatan Mental Remaja yang Sering Terabaikan

Selama berkarir menjadi peneliti, Asrul banyak berkecimpung dalam bidang manajemen kesehatan, salah satunya lingkup studi mengenai kesehatan remaja (adolescent health). Penelitiannya saat ini merupakan bagian dalam Ten2Twenty Project, dimana dia akan menyorot seputar anemia, pubertal onset, dan hubungannya dengan kesehatan mental pada remaja di Indonesia. Membicarakan lebih jauh tentang fokus risetnya, Asrul menceritakan bagaimana anemia dan pubertal onset, atau yang lebih dikenal sebagai masa mulainya pubertas, berpotensi mempengaruhi kesehatan mental remaja, terutama remaja perempuan. Masa awal menstruasi pada remaja perempuan yang berada di luar usia rata-rata berpotensi menyebabkan body image yang buruk. Hal tersebut saat ditambah dengan faktor eksternal seperti kondisi sosial-ekonomi dapat memicu timbulnya depresi pada remaja.

Saat berbicara tentang kesehatan mental dan depresi, terutama pada remaja, Asrul tidak memungkiri bahwa banyak faktor lain yang berperan. Meski demikian, masih sedikit riset yang memfokuskan mengenai hubungan fisiologis seperti anemia dan pubertal onset dengan kesehatan mental pada remaja di Indonesia. Dia juga menyayangkan adanya stigma negatif masyarakat yang menyepelekan kemungkinan bahwa kesehatan mental yang buruk juga dapat dialami oleh remaja, yang sebenarnya termasuk dalam fase riskan mengalami depresi.

Fluktuasi hormon yang terjadi saat remaja mengalami pubertal onset acap kali memunculkan pandangan umum bahwa perubahan perilaku adalah hal yang wajar terjadi saat anak memasuki usia remaja. Asrul menegaskan hal yang perlu diwaspadai adalah bagaimana respon remaja saat menghadapi fluktuasi hormon ditubuhnya, yang mana berpotensi mengarah pada terganggunya kesehatan mental. Sehingga, menjadikan pendampingan dari orang dewasa terdekat penting dilakukan guna mencegah manifestasi negatif sebagai akibat dari fluktuasi hormon di tubuh. Perubahan fisiologis sebagai salah satu determinant factor gangguan kesehatan mental remaja adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Asrul juga berkata bahwa orang dewasa terdekat mempunyai peran penting dalam menciptakan lingkungan yang baik bagi remaja guna menekan prevalensi gangguan kesehatan mental.

Berbincang lebih jauh mengenai fisiologis atau sosial ekomoni yang menjadi determinant factor dari gangguan kesehatan mental remaja, tidak berlebihan jika menyebut bahwa lingkup studi tersebut adalah hal yang cukup mendesak untuk dipelajari lebih lanjut. Terlebih dengan penelitian dasar yang menyebutkan bahwa angka penderita common mental disorder di Indonesia terus meningkat setiap tahun dan tidak hanya terpusat pada perkotaan tetapi juga area pedesaan. Asrul berharap dengan lebih terbukanya determinant factor dari gangguan kesehatan mental di remaja, penanggulangan guna menekan faktor-faktor tersebut dapat dilakukan dengan lebih baik. Sehingga dapat menekan prevalensi penderita common mental health disorder di Indonesia.

Terlepas dari ruang lingkup penelitian yang cukup luas mengenai anemia, pubertal onset, dan kesehatan mental pada remaja, Asrul menegaskan bahwa masih banyak spot kosong yang bisa diisi baik untuk kolaborasi, atau pun pengembangan topik penelitian bagi kandidat peneliti yang memiliki minta serupa. Dia mencontohkan, eksplorasi faktor genetik atau mekanisme biologis lainnya, ekonomi keluarga, hingga sosial budaya adalah beberapa aspek yang dapat diteliti lebih lanjut untuk mengetahui hubungan hal-hal tersebut dengan mental health disorder pada remaja.

Kehidupan sebagai mahasiswa doktoral di WUR

Menempuh Pendidikan tinggi diluar Indonesia tentunya membuat mahasiswa terpapar dengan berbagai macam kultur yang berbeda. Saat ditanya tentang hal apa saja yang ingin dibawa pulang ke Indonesia, Asrul berkata bahwa WUR memfasilitasi jejaring yang bagus baik itu ke peneliti ahli, ataupun rekan peneliti muda dari berbagai negara yang kelak dapat membuka jalan bagi peneliti Indonesia lainnya untuk berkarir ditingkat global. Budaya sederhana seperti menghargai waktu kerja dan waktu istirahat juga menjadi salah satu poin yang dirasanya cukup penting untuk diterapkan di Indonesia.

Menuju penghujung wawancara, Asrul menyempatkan untuk memberikan beberapa saran yang relevan bagi peneliti Indonesia yang ingin melanjutkan Pendidikan doktoral di WUR. Selain mencari informasi detail tentang kandidat supervisor yang akan menjadi promotor dan topik studi, mempersiapkan perbedaan ritme dan budaya kerja antara Indonesia dan WUR adalah hal yang penting dilakukan. Dia mencontohkan bagaimana budaya kerja peneliti di WUR yang lebih mandiri, dimana ritme penyelesaian studi dan penelitian bergantung seutuhnya ke diri masing-masing. Dia juga berpesan bahwa penting sekali membangun kehidupan doktoral yang seimbang antara sisi personal dan profesional. Saat dihadapkan pada beban kerja yang besar, gaya hidup yang seimbang dapat meminimalisir pengaruh buruk baik bagi mental dan fisik yang sering kali timbul akibat tekanan pekerjaan.

Sebagai penutup, Asrul menegaskan bahwa kualitas penelitian di Indonesia mampu bersaing di tingkat Internasional, artinya apa yang sudah dan sedang dilakukan di Indonesia juga tengah dilakukan ditingkat global. Menandakan bahwa Indonesia tidak harus berrendah diri dengan kualitas penelitiannya. Hal yang membedakan, dan mungkin dapat diterapkan di Indonesia di masa mendatang adalah luas ruang lingkup yang dibahas. Sebagai contoh, perancangan desain penelitian dengan pendekatan yang lebih multi-faktor, yang mana akan berpengaruh pada kedalaman dan keragaman sudut pandang saat meneliti topik tertentu.

Ingin mengenal Asrul lebih jauh? Ikuti tautan dibawah ini:

LinkedIn: Muhammad Asrullah

WUR’s person profile: Muhammad Asrullah 

Ditulis oleh:

Sri Bening
MSc. Candidate – Biology
Wageningen University and Research

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.