Select a page

Nadya Karimasari : Cerita tentang petani kecil dan konservasi masa kini

Terkenal sebagai kampus ilmu hayat terkadang membuat beberapa orang melupakan fakta bahwa Wageningen University and Research (WUR) memiliki berbagai macam program studi ilmu sosial yang tidak kalah dengan ilmu hayat yang ditawarkan. Bermaksud untuk mengulik lebih jauh mengenai program studi berbasis ilmu sosial di WUR, Profil PhD kali ini menyorot Nadya Karimasari yang tengah menjalani pendidikan doktor di Department of Sociology and Anthropology of Development (SADE). Sosok yang akrab dipanggil Nadya ini merupakan alumni Sosiologi di Universitas Gadjah Mada, dan melanjutkan pendidikan Master of Art (MA) di International Institute of Social Studies, Den Haag, sebelum memutuskan menjadi PhD candidate di WUR.

Nadya berkecimpung sebagai relawan dalam gerakan agraria Indonesia sejak 2011, sepulang dari pendidikan master. Pembimbingnya saat studi master, Jun Borras, adalah pelopor gerakan agraria internasional yang memperkenalkan Nadya pada gerakan agraria di Indonesia. Beberapa tema penelitian yang Nadya tekuni di antaranya politik ekonomi sektor kehutanan di Indonesia (2014), perubahan tata kelola hutan di Indonesia (2013), pemulihan sosial ekonomi korban bencana gunung Merapi (2012), dan kampanye gerakan agraria dan lingkungan melawan deforestasi (2011). Hingga saat ini, keahlian bidang ilmu Nadya berada dalam ranah sosiologi dan antropologi pembangunan, terutama dalam tema perjumpaan inisiatif-inisiatif konservasi lingkungan dengan peri-kehidupan masyarakat di bidang pertanian dan perkebunan. Dalam penelitiannya, Nadya berupaya memahami sudut pandang masyarakat dan sistem sosial yang melingkupi persoalan lingkungan hidup.

Salah satu momen terbaik dalam rentang studi PhD Nadya adalah ketika ia mendapatkan fellowship pada tahun 2019 untuk mempelajari kritik dan krisis kapitalisme di Institute for Critical Social Inquiries, The New School of Social Science, New York. Di lembaga yang dikepalai Ann Stoler tersebut, Nadya belajar bersama tutor utama Nancy Fraser dan tutor pendamping Etienne Balibar serta Achille Mbembe. Fellowship tersebut menguatkan minat Nadya untuk mendalami isu-isu penjajahan dan diskriminasi, baik terhadap perempuan, non-manusia, dan masyarakat non-kulit putih. Tutor-tutor Nadya dan rekan-rekan fellowship tersebut memantik cara berpikir yang mengaitkan proses kerusakan lingkungan dengan sistem dan budaya penjajahan serta diskriminasi, baik di tingkat mikro keseharian maupun global.

Konservasi masa kini dan keunikan petani kecil di Taman Nasional Gunung Leuser

Nadya memulai kiprahnya sebagai mahasiswa PhD dengan dengan tema riset berbasis pertanian dan lingkungan. Berbicara lebih jauh mengenai topik penelitian yang sudah dijalani hingga sekarang, Nadya bercerita tentang disertasinya di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumatra, Indonesia yang lebih fokus di Aceh Tenggara. Nadya mengulik lebih jauh bagaimana ketegangan yang terjadi antara petani kecil di dalam area Taman Nasional dengan agen konservasi, dalam hal ini termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat, donor, dan pemerintah yang berkaitan dengan konservasi hutan, sebagai akibat dari proyek penghijauan atau restorasi ekologi.

Aceh Tenggara memiliki kondisi masyarakat campuran yang terdiri dari berbagai macam suku. Lebih jauh lagi, Nadya menjelaskan bahwa program penghijauan di lokasi tersebut cukup unik karena dikategorikan oleh pemerintah sebagai teladan atau role model dari pendekatan yang dinamakan “konservasi sebagai Reforma Agraria Halus”. Agen konservasi nasional melakukan inovasi legal untuk memperbolehkan adanya aktivitas petani kecil tradisional di dalam kawasan Taman Nasional dengan berbagai syarat. Pada masa sebelumnya, aktivitas manusia sangat dibatasi sehingga Taman Nasional secara normatif harus nihil dari kegiatan pertanian.

Meski masih perlu diperbaiki di sana sini, inovasi pemerintah tersebut tak lepas dari aspirasi gerakan petani kecil Aceh Tenggara, yang menamakan diri sebagai Perkumpulan Petani Kawasan Kaki Gunung Leuser (PPKKGL). PPKKGL adalah gerakan petani terbesar dalam sejarah Aceh Tenggara. Petani kecil di Aceh Tenggara pro-aktif dalam menekan agen konservasi untuk tidak melarang adanya praktik pertanian di dalam Kawasan Taman Nasional, yang mana juga didukung oleh pemerintah kabupaten hingga provinsi. Bahkan, wakil gubernur Aceh saat itu yang merupakan petinggi GAM (Gerakan Aceh Merdeka) juga turun langsung untuk membebaskan lima orang petani yang sempat dipenjara karena berdemonstrasi dan memecahkan kaca jendela kantor TNGL cabang Aceh Tenggara. Aspirasi gerakan petani ini berjodoh dengan perubahan yang terjadi di dalam internal kelembagaan pengampu konservasi, terutama di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sendiri. Penganut pendekatan Perhutanan Sosial atau perhutanan berbasis masyarakat yang telah mengemuka sejak 1970-an kini telah memegang jabatan-jabatan strategis dalam institusi tersebut.

Tidak hanya pihak pemerintah, agen konservasi masa kini juga turut mempertimbangkan perhutanan sosial dalam program-programnya. Hal tersebut berhubungan dengan sumber pendanaan yang mereka terima, yang mana tidak lagi hanya bergantung kepada donor pemerintah luar negeri melainkan juga masyarakat umum. Dicontohkan oleh Nadya adalah aplikasi mesin pencari “Ecosia” yang bertajuk ramah lingkungan. Pendapatan dari iklan pada mesin pencari tersebut akan digunakan untuk penanaman pohon. Hal tersebut menunjukkan pentingnya branding bagi aktivitas konservasi masa kini yang berkaitan erat dengan pandangan masyarakat terhadap kegiatan yang diusulkan. Apabila kegiatan tersebut memiliki citra buruk yang menyudutkan petani kecil, dukungan masyarakat umum juga bisa menurun yang berakhir pada rendahnya donasi yang terkumpul. Dukungan dan kritikan masyarakat umum juga turut berperan dalam mendorong agen konservasi untuk memperkuat penghormatan terhadap petani kecil.

Perlawanan antara petani kecil dan agen konservasi sendiri merupakan hal yang sering didengar di Indonesia. Nadya mengakui bahwa “reforma agraria halus” yang terjadi di Aceh Tenggara ini merupakan kasus khusus yang jarang ditemui di daerah lain. Petani kecil di Aceh Tenggara yang tidak segan memberikan perlawanan atas intervensi agen konservasi, optimalnya dukungan pemerintah daerah Aceh dan penguatan pendekatan Perhutanan Sosial secara nasional adalah faktor kunci keberhasilan mereka mempertahankan praktik pertanian di TNGL yang sudah berlangsung turun-temurun jauh sebelum ada TNGL di wilayah tersebut. Nadya juga menyorot tentang bagaimana pandangan masyarakat turut berperan menggeser arah kebijakan agen konservasi agar tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan terhadap petani kecil. Yang mana turut berkontribusi untuk menurunkan ketegangan antara petani kecil dan agen konservasi di kawasan tersebut, meski masih terdapat protes di sana sini.

Nadya juga menegaskan bahwa dirinya tidak bisa mengatakan bahwa kisah petani kecil di TNGL dapat diduplikasi bagi konflik serupa di daerah lain. Tidak ada yang bisa menjamin apabila dukungan pemerintah daerah dan pandangan masyarakat sudah berpihak kepada petani kecil akan menghentikan tekanan agen konservasi kepada petani kecil. Hal ini termasuk dalam ranah ilmu antropologi sosial dimana konteks lokal berperan besar dalam suatu kasus. Nadya juga berpendapat bahwa konteks lokal dan keunikan setiap daerah dapat dijadikan sebagai ruang perlawanan saat berhadapan dengan konflik serupa.

Saat ditanya lebih jauh tentang hal yang belum didalami dalam penelitiannya, Nadya menyatakan bahwa baru-baru ini ia diajak dosen dari jurusan lain untuk menulis proposal pos-doktoral yang hendak meneliti aspek gender dalam kasus studi PhD-nya. Nadya juga menyebutkan bagaimana “reformasi agraria halus” yang terjadi di TNGL, memiliki dampak tidak langsung adanya perubahan

dan kelenturan hukum adat dari suku tertentu yang berkaitan dengan perempuan, misalnya hak kepemilikan tanah. Hal ini sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Kehidupan PhD candidate dan proyek jangka panjang

Selain penelitian, Nadya banyak menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Dia bercerita tentang kontribusinya dalam buku Enforcing Ecological Catastrophe: The Police and Military as drivers of Climate Change and Ecocide (forthcoming), yang mana memuat sebagian kecil hasil penelitian disertasinya. Tulisannya mengelaborasi bagaimana hubungan aksi kekerasan dan kerusakan lingkungan, misalnya peran militer, paramiliter atau premanisme serta korporasi besar yang mendanai jaringan kekerasan yang seolah kebal hukum tersebut.

Nadya yang saat ini menginjak tahun terakhir sebagai PhD candidate di WUR, juga memiliki cerita tentang tantangan dan suka duka yang datang dari posisinya saat ini. Dia menegaskan bahwa calon pendaftar penting untuk mengetahui dengan baik hak dan kewajiban yang datang dari posisi yang dilamar sebelum mendaftar menjadi PhD candidate. Dicontohkan oleh Nadya, awal mula dirinya mendaftar lowongan PhD candidate di WUR adalah sebagai karyawan (jalur PhD by vacancy). Akan tetapi, dia mendapati status sebagai karyawan tersebut tidak pernah diberlakukan dan diganti menjadi status mahasiswa nonkaryawan. Ini merupakan kebijakan “inovatif” WUR dalam bidang ketenagakerjaan untuk mengurangi ongkos gaji karyawan di universitas. Saat melamar PhD by vacancy, seorang PhD candidate dikategorikan sebagai karyawan yang memiliki hak-hak pekerja seperti gaji, subsidi sosial, asuransi, pembebasan pajak, cuti berbayar, gaji di masa tenggang (ketika kontrak habis dan dalam masa pencarian untuk pekerjaan berikutnya), juga keanggotaan serikat buruh universitas, bahkan fasilitas kredit untuk membeli sepeda. Mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan administrasi dan keuangan, walaupun hal tersebut tidak berhubungan dengan tema penelitian PhD, akan sangat berguna karena sebenarnya PhD hanya bagian kecil dari kehidupan yang harus terus berjalan. Nadya menegaskan bahwa untuk mempelajari apa yang dia mau (dalam konteks keilmuan), dirinya harus mampu mengatur sedemikian rupa supaya tidak terhambat karena urusan-urusan tersebut.

Hal lain yang ditegaskan oleh Nadya untuk disiapkan adalah mengenal lebih jauh kepribadian calon dosen pembimbing. Pendidikan doktoral di WUR ditargetkan selesai dalam waktu setidaknya 4 tahun. Ini rentang waktu yang cukup panjang dan tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan sosial antara PhD candidate dan pembimbingnya sangat berpengaruh bagi kelancaran studi mahasiswa. Nadya menyarankan untuk bertanya tentang kepribadian calon pembimbing kepada pihak-pihak yang dapat dipercaya, sebelum memutuskan untuk memilih orang tersebut sebagai dosen pembimbing. Dengan harapan, kita memiliki gambaran tentang bagaimana kecenderungan pembimbing dalam memperlakukan mahasiswanya. Hal tersebut dirasa Nadya sebagai faktor yang tak kalah penting dan patut untuk dijadikan pertimbangan, selain keahlian bidang ilmu, dalam menentukan calon pembimbing.

Ingin berdiskusi atau mengenal Nadya lebih jauh? Kunjungi tautan dibawah ini:

WUR’s Person: Nadya Karimasari

Ditulis oleh:

Sri Bening

MSc. Candidate – Biology

Wageningen University and Research

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.