Select a page

Romantisme Ketukan Bambu

Sorry, this entry is only available in Bahasa Indonesia. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

angklung-one world week1

 

Bhinneka tunggal ika. Walau berbagai suara, satu harmoni pun tercipta.

Kutipan di atas tampaknya layak dialamatkan untuk teman-teman PPI Wageningen. Turut serta dalam rangkaian One World Week, mereka menampilkan kultur Indonesia yang telah disahkan UNESCO sebagai “Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity” sejak tahun 2010. Harmony of Bamboo adalah ajang untuk menampilkan keindahan harmoni angklung dalam dua lagu populer, sekaligus mengajak khalayak internasional untuk menikmati dan terlibat di dalam harmoni.

Dipandu oleh Aysha sebagai dirigen, dan diiringi dentingan melodi oleh Kevin, para pemusik pun memainkan angklung masing-masing sesuai nada dan irama. Dua lagu dibawakan dengan apik dalam rentang waktu sekitar sepuluh menit. Gagahnya burung Garuda yang digambarkan dalam lagu Manuk Dadali terasa semakin megah ketika dibawakan dengan ketukan angklung yang pas. Romantisme Can’t Take My Eyes Off You sebagai lagu kedua pun memikat perhatian para pendengar. Tak heran, walaupun sempat terganggu oleh kenorakan Hey Soul Sister di awal penampilan, tepuk tangan meriah pun memenuhi The Spot, Orion steleah lagu selesai mengalun.

Kejutan tak berhenti di situ. Teman-teman PPI Wageningen tak hanya menampilkan lagu, tetapi juga mengajak para penonton untuk berkumpul dan bermain angklung dalam workshop singkat. Edelweiss dipilih sebagai simfoni yang dimainkan penonton. Dan, walaupun kebanyakan dari mereka baru sekali itu bermain angklung, lagu yang dibawakan benar-benar menyentuh hati. Tentunya setelah Aysha, dibantu Ian, mengajari cara memegang serta memainkan angklung.

Senyuman-senyuman terbit setelah Edelweiss selesai dimainkan. Betapa tidak, harmoni indah telah tercipta sore itu. Walaupun berbeda suku bangsa dan bahasa, bahkan baru pertama kali memainkan angklung. “It was fun,” cetus salah seorang pemain angklung. Tentunya ini menjadi PR kita bersama, sebagai warga Indonesia, untuk terus menggalakkan dan melestarikan angklung sebagai warisan kebanggaan Indonesia.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*