Select a page

Satu Tahunku

Hm… kadang, waktu memang terasa berjalan begitu cepat. Hari ini, Sabtu (3/9), tak terasa kalau aku sudah satu tahun lebih berada di Belanda. Akupun punya ‘ade’ tingkat, mahasiswa baru Wageningen angkatan 2011.

Melihat mereka saat halal bi halal di Bornsesteg (apartemen mahasiswa), aku teringat masa-masa awal di Belanda. Aku teringat betapa aku kagum saat pertama kali naik kereta di Belanda. Keretanya tidak berisik, dua lantai dan yang pasti, aku tidak perlu berdiri dan berdesak-desakkan selama perjalanan.

Selama perjalanan dari Bandara Schipol Amsterdam ke Stasiun Ede-Wageningen, aku memperhatikan kalau daratan Belanda begitu datar, tak ada bukit atau gunung. Aku juga melihat rumah-rumah penduduk yang begitu tertata rapi, menara-menara Gereja kuno, sungai-sungai yang bersih dan daerah peternakan kuda, sapi dan domba. Ah pemandangannya begitu indah..

Turun di stasiun Ede-Wageningen, aku melanjutkan perjalanan menggunakan bus 88 ke Bornsesteg. Di sana kami di sambut dengan pengurus PPI Wageningen. Sambutan mereka sangat ramah, dan yang pasti, makanannya juga enak-enak 😉

Hari berikutnya, perasaan kagumku bertambah. Aku kagum dengan system transportasi yang berjalan dengan baik. Bus hanya stop di halte bus. Bus berangkat dan datang hampir tepat waktu, kalaupun terlambat paling lama 5 menit. Sopir bus tak peduli apakah ada penumpang atau tidak, mereka tetap pergi jika waktu berangkat telah tiba.  Atau ada penumpang yang terlambat kemudian berlari-lari mengejar bus. Mereka tak peduli.  Mereka tetap berangkat mengikuti jadwal keberangkatan. Tak heran, sopir bus sering mendapat ‘jari tengah’ dari penumpang yang telat datang. Aku sering melihatnya di stasiun kereta Ede-Wageningen.

Dalam hati, aku kagum dengan pengendara bus di Belanda. Mereka memelihara system itu berjalan dengan baik walaupun kadang mendapatkan makian. Bayangkan saja, jika sopir bus harus peduli pada keterlambatan satu atau dua orang. Dampaknya cukup besar. Waktu keberangkatan yang molor dan tentu saja itu merugikan banyak penumpang.

Selain kepada sopir bus, aku juga kagum dengan pengendara mobil pribadi di sini. Boleh dibilang, mereka sangat tertib. Tidak pernah menyerobot jalur busway, mengurangi kecepatan jika lampu kuning menyala dan mendahulukan pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Hari-hari berikutnya, aku baru tahu, kalau sikap mereka  itu mungkin timbul karena mendapatkan SIM di sini sangat sulit. Seorang teman di tempat tinggalku baru saja mendapatkan SIM menerima ucapan selamat seperti saat hari ulang tahunnya. Saat perjalanan darat ke Prancis minggu lalu, rekanku menceritakan kalau ia satu kali gagal mendapatkan SIM hanya gara-gara tidak melihat kaca spion saat akan berbelok. Kata temanku itu, gagal mendapatkan SIM adalah hal yang normal di Belanda. Biasanya mereka harus mencobanya satu atau dua kali lagi baru berhasil. Aku jadi tersenyum jika ingat SIM yang aku dapatkan tanpa harus ikut tes..

Dari orang yang sama, aku mengetahui kalau pemerintah Belanda, apalagi Prancis, memasang kamera-kamera tersembunyi di jalanan. Kamera-kamera itu, terutama di Belanda, biasanya dipasang secara berpindah-pindah. “Flash kameranya akan menyala kalau kita mengendara di atas kecepatan yang diperbolehkan,” ucap teman saya. Foto berisi keterangan mengenai kapan, dimana dan jenis pelanggaran akan dikirimkan sebagai bukti bersama dengan denda yang cukup lumayan, sekitar 80 euro atau Rp 960 ribu, bahkan lebih dari itu.

Saat main ke kota-kota lainnya di Belanda seperti Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Eindhoven, Enscdhe, Utrech dan lainnya, aku lagi-lagi aku kagum dengan system transportasil di Belanda. Seperti kota besar lainnya di Eropa, kota-kota besar di Belanda juga dilengkapi dengan transportasi massal  seperti Metro dan Tram. Yang buat aku kagum, jalan-jalan di beberapa pusat kota di Belanda tidak terlalu lebar sehingga jalur tram, mobil dan bus kadang diletakkan dalam satu jalan. Walaupun begitu semuanya berjalan dengan baik. Kendaraan-kendaraan itu tidak pernah bertemu pada waktu yang sama walaupun frekuensi mereka lumayan padat. Dan yang membuatku lebih… lebih… lebih.. lebih.. heran lagi di jalan-jalan itu terdapat jalur-jalur sepeda yang kadang lebarnya selebar jalan untuk mobil !!!!

Sepeda

Belanda memang menjadi surga bagi pengendara sepeda. Bukan hanya karena daratannya (daratan di Belanda pada umumnya datar) yang bersahabat bagi sepeda tapi juga infrastruktur. Aku memang belum pernah mengujinya, tapi aku rasa seperti kota-kota yang dihubungkan oleh jalan, kota-kota di Belanda juga dihubungkan oleh jalur sepeda. Jadi, aku yakin aku bisa mengendara sepeda dengan aman dan nyaman ke Amsterdam di Barat, ke Mastricht di Selatan, ke Groningen di Utara atau ke Enscdhe di Timur. Alasan terakhir yang aku suka, masyarakat di sini begitu cinta dengan sepeda sehingga kadang mereka tidak terlalu pusing dengan merk atau kondisi sepeda. Sepanjang itu bisa jalan, mereka tetap pakai. Kadang aku suka tertawa dalam hati jika melihat sepeda mahasiswa Belanda yang karatan dengan roda yang bengkok sementara harus menopang tubuh sang pengendara yang luar biasa raksasa..:)

Penerimaan Anak Baru

Sebelum masuk kuliah, seperti juga di Indonesia, ada namanya penerimaan mahasiswa baru. Bedanya, dan sangat… sangat berbeda. Kegiatan penerimaan anak baru di sini lebih banyak kegiatan having funnya. Keliling kota atau bermain di siang hari, barbeque di sore hari dan party dari malam sampai pagi hari. Makan, minum dan snacknya juga enak-enak. Menunya berganti-ganti. Kadang menu Asia, Afrika, Amerika Latin, Eropa dan makanan khas Belanda. Dan penerimaan mahasiswa baru di sini sangat ditunggu oleh para senior karena partynya akan lebih heboh dan seru serta kesempatan untuk gabung barbeque gratis J

Aku jadi ingat PMF (Penerimaan Mahasiswa Fahutan) di kampusku. Hampir 10 tahun yang lalu,  aku harus berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan sebagai warga kampus. Waktu aku pulang dari PMF, ibuku hampir tak mengenaliku karena aku begitu hitam dan cukup berotot J Aku pikir, setelah melihat penerimaan mahasiswa baru di sini, PMF boleh saja ada dan tetap keras, tapi hal-hal kasar dan perlakuan seperti anak TK sepertinya harus dihilangkan.

Pertama masuk kuliah

Begitu masuk kuliah, aku baru merasakan perbedaan fasilitas dan teknologi di kampus negara maju. Komputer yang begitu banyak, komputer-komputer yang terhubungkan dengan fotokopi dan printer yang terdapat di setiap lantai, jaringan internet yang kecepatannya wes…wes… wes… (jangan heran kalau ada mahasiswa Indo yang pulang bawa 1 TB Hardisk eksternal yang isinya film semua J) dan artikel ilmiah yang komplet. Aku semakin kelihatan dari negara berkembang karena harus belajar menggunakan chip knip. Sebuah kartu yang digunakan untuk membayar mesin fotokopi, kopi, kantin dan toko.

Fasilitas kampus

Di kelas, aku sangat terkejut melihat fasilitas yang ada. Bukan karena bangku-bangku yang disusun seperti di Cinema 21, atau karena setiap kelas dilengkapi LCD, tapi karena kapur !!!! Kampusku ternyata memakai kapur. Sebuah alat tulis menulis yang begitu dianggap kuno di negaraku. Aku cuma bilang, segala fasilitas dan teknologi itu memang sangat memudahkan dan memanjakanku untuk belajar..

Ketika periode 6 berakhir, aku semakin sadar kalau kampus yang berada di desa ini begitu internasional, dalam arti keragaman dosen dan mahasiswanya. Katanya sih, di kampusku terdapat 105 kebangsaan. Jumlahnya yang cukup banyak. Setidaknya, aku mengenal empat dosenku yang berasal dari luar Belanda. Mereka berasal dari Amerika, Australia, Cina dan India. Ah, betapa beruntungnya aku kuliah di sini.

Google Translate

Ini pengalamanku yang sangat berkesan dengan google translate. Aku gak bisa membayangkan jika paman penerjemah ini tak pernah diciptakan. Aku ingat betul periode pertama. Aku pikir, dengan level Bahasa Inggrisku aku bisa menyelesaikan tugasku dengan baik. Ternyata tidak, karena saking keteteran, aku kadang menuliskan tugasku dalam Bahasa Indonesia kemudian memasukkan ke Google translate lalu mengeditnya. Dua kali kerja memang, tapi aku pikir itu lebih cepat daripada menuliskannya langsung dalam Bahasa Inggris. Waktu pertama-tama mengerjakan tugas, kadang aku harus membutuhkan waktu 1-2 jam untuk menulis 1 atau 2 paragraph..:) Sekarang pun, walapun hampir satu tahun di sini, aku masih membutuhkan Google translate, baik untuk menulis maupun membaca. Ah, aku mengucapkan terima kasih kepada pencipta Google translate, mudah-mudahan kalau dia membaca tulisanku, dia mau mengundangku makan malam J

Masih soal Bahasa Inggris, sewaktu berangkat, aku sangat percaya diri dengan level Bahasa Inggrisku. IELTS-ku dapat 6 (speaking 6,5). Aku pikir, itu sudah cukup lumayan. Namun, saat penerimaan mahasiswa baru, aku baru sadar kalau aku harus berjuang keras untuk berkomunikasi dengan baik. Aku kadang sangat-sangat tidak mengerti jika seorang teman dari Afrika atau Asia Selatan berbicara. Mereka berbicara sangat cepat (karena Bahasa Inggris adalah Bahasa kedua dan sebagian official untuk pemerintahan) dengan logat-logat mereka sendiri. Kadang aku harus meminta mereka mengulangnya kembali, bukan hanya sekali tapi kadang 2 kali..:) Karena itu, aku memilih tinggal di apartemen yang tak banyak mahasiswa Indonesianya. Aku tinggal di koridor yang didominasi mahasiswa Belanda, namun ada juga dari Italia, Brasil dan Jerman. Lumayan, untuk teman practice 1 atau 2 jam sehari..:)

Sepak Bola

Aku penggemar sepak bola. Dan kuliah di Belanda sangat menguntunganku. Lapangan bola di sini sangat…sangat… sangat…sangat.. bagus sekali. Dan menemukan lapangan bola yang bagus bukanlah perkara yang sulit. Kampusku memiliki dua lapangan, satu dengan rumput seperti rumput futsal di Indonsia, dan yang satunya rumput alami.

Aku menemukan banyak pengalaman menarik selama bermain bola di sini. Aku ingat pertama kali waktu ikut latihan dengan tim sepak bola Wageningen. Saat pemanasan lari ringan keliling lapangan, aku selalu urutan paling belakangan. Yang aku heran, aku merasa aku sudah lari cukup kencang sementara mereka santai-santi saja. Setelah kuperhatikan, kaki mereka panjang-panjang. Tinggiku 164 cm sementara tinggi teman-teman Belandaku sekitar 180 ke atas. Teman-teman dari Eropa Selatan, Afrika dan Amerika Latin biasanya 170. Setelah itu, aku tidak pernah ikut latihan tim sepak bola Wageningen lagi J

Walaupun tak pernah ikut latihan, aku tetap suka bermain bola dengan mereka. Jika melihat mereka, sekali lagi, aku melihat betap beragamnya kampusku. Jika kami bermain, biasanya kami menggunakan baju tim nasional kami atau klub-klub asal kota kami. Di situ aku melihat baju timnas dari negara-negara di Afrika dan Amerika Latin, atau klub-klub kecil di Eropa yang jarang aku lihat. Aku pun suka menggunakan kostum timnas Indonesia dengan Garudanya.

Saat bermain bola, aku suka memperhatikan cara bermain mereka. Pemain Belanda dan Jerman biasanya, dibandingkan Afrika, Eropa Selatan dan Amerika Latin bermain secara tim. Mereka sepertinya tahu kemana harus berlari jika seorang teman mereka mendapatkan bola. Sedangkan teman-teman lainnya, terutama dari Afrika biasanya bermain lebih individu dan kadang hanya mengoper kepada sesama mereka.

Pada periode 5 dan 6, aku bergabung dengan sebuah tim yang terdiri dari berbagai negara dan mengikuti kompetisi internal kampus. Kompetisi sepak bola 6 lawan 6 dan bermain setengah lapangan sepak bola. Kompetisi ini sangat menarik dan seru karena kadang kami bertemu dengan tim lain yang isinya satu negara tertentu, misalnya Cina dan Belanda. Timku menjuarai kompetisi ini pada periode 6. Aku sangat gembira karena aku mencetak gol ke-4 di final. Kami menang dengan skor 5-3 dengan tim yang pernah mengalahkan kami di babak sebelumnya. Kami pun mendapatkan segelas beer dan apple pie sebagai hadiah.

Pengalaman menarik lainnya adalah bermain dengan cuaca dingin. Aku masih ingat pernah bermain dengan menggunakan baju dan sweeter serta kaos tangan. Dan walaupun bermain selama satu hingga satu setengah jam, aku tetap merasakan dingin J

Dari berbagai pengalaman, bagiku yang paling menarik adalah saat timku harus melawan tim wanita Belanda di babak penyisihan kompetisi. Aku gak percaya kalau aku akan bermain melawan mereka. Setelah bermain, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Cara bermain mereka, cara bertahan, menyerang dan sebagainya. Aku bahkan tak percaya kalau dua orang wanita di tim itu tendangannya lebih keras dari diriku. Aku juga tak percaya kalau kiper mereka benar-benar terbang saat harus menangkap bola. Kami memang besar saat itu. Aku pikir, kami menang karena kami lebih cepat dalam berlari dan lebih kuat saat beradu berebut bola.

Di Belanda, sepak bola memang bukan hanya milik pria tapi juga wanita. Aku satu kali melihat pertandingan wanita-wanita yang cukup berumur melawan teman-teman kampusku. Dan minggu-minggu terakhir ini, selama libur musim panas, ada seorang wanita (kalau liat fisiknya sepertinya masih Bachelor) yang sering bermain bersama kami. Dan aku cuma mau bilang, visi bermainnya sangat cemerlang, begitu juga dengan kontrol bolanya. Dua kali aku melawannya, dan menurutku dia selalu menang dalam pertarungan di lapangan tengah. Dia adalah playmaker yang sangat baik bahkan menurutku cara dia mengatur timnya tak tertandingi oleh kami-kami yang pria.

O iya, selama di sini aku juga sudah dua kali menonton pertandingan sepak bola. Pertama adalah pertandingan Liga Champion antara Ajax Amsterdam dan AC Milan dan yang kedua pertandingan antara Belanda dan Hungary. Kedua pertandingan berlangsung di Amsterdam Arena, stadion milik Ajax. Aku cukup senang karena aku bisa melihat langsung aksi Zlatan, Pirlo, Pato, Wesley Sneijder, Van Persie dan nama-nama besar lainnya.

Ah, sebenarnya aku pingin cerita tentang masakan pertamaku, salju pertamaku, tempat tinggalku, sepeda lagi, red light, gay, jalan-jalan di Eropa dan lainnya. Tapi, udah ngantuk nih… Mau tidur dulu ah.. Nanti lagi nyambungnya

Ditulis oleh Reonaldus, presidium PPI Wageningen dan mahasiswa M.Sc Environmental Scinces angkatan 2010


1 Comment

  1. Aty Thursday September 29th, 2011 Reply

    Mas Reooooooooooooo klo mo nonton bola lagi di Amsterdam ajak2 yaaa.. diriku jg penggemar bola ^_^

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*