Select a page

Thinking Tool untuk Pendidikan di Era Ketidakpastian

(Ilham Surya. MSc Candidate Environmental Sciences)

Pada tahun 2005, Bill Gates mengatakan “Mendidik tenaga kerja masa depan melalui perguruan tinggi masa kini seperti halnya mengajarkan pada anak teknologi komputer masa kini dengan prosesor mainframe yang berusia 50 tahun”. Pendidikan di abad 21 seperti difokuskan untuk membentuk mahasiswa untuk menghadapi era ketidakpastian. Berbicara mengenai disrupsi dan ketidakpastian, Bill Gates merupakan pakarnya. Dengan segala inovasi yang ia bawa, Gates menciptakan disrupsi tatanan kehidupan melalui bidang teknologi. Ia mereformasi konsep komunikasi yang memungkinan interaksi virtual, sejauh apapun jaraknya. Dengan bantuan komputer Gates pula, pola kerja 20 tahun yang lalu berbeda dengan pola kerja masa kini. Gates hanyalah salah satu dari banyaknya inovator dunia pencipta disrupsi. Dengan pengalamannya menciptakan disrupsi, Gates mengingatkan kita untuk selalu bersiaga dengan kemungkinan adanya disrupsi – disrupsi lain di masa mendatang.

Saat ini di tahun 2020, kita menghadapi sebuah disrupsi epik, yaitu pandemi Corona virus (COVID-19). COVID-19 menciptakan disrupsi luar biasa yang dipercaya bisa mengakibatkan resesi ekonomi dan memaksa kita untuk bekerja, belajar dan berinteraksi secara virtual. Saat ini Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengimbau masyarakat untuk hidup berdampingan dengan COVID-19 dan bersiap menerapkan pola hidup baru (new normal). Disrupsi ini mengingatkan kita akan pesan Gates, dalam hal ini kepada dunia pendidikan, untuk selalu mengantisipasi segala ketidakpastian yang terjadi di masa mendatang. Mata kuliah – mata kuliah inovasi dan kelas – kelas manajemen pun dihadirkan perguruan tinggi untuk menjawab tantangan ini.

Proposisi lain dihadirkan Facer et al. (2011). Proposisi mereka bukanlah anjuran, melainkan pertanyaan mengenai orientasi/posisi apa yang dialami oleh perguruan tinggi terkait masa depan yang tidak pasti. Hal ini penting karena untuk memformulasikan strategi yang tepat, diperlukan pemahaman atas posisi mereka masing – masing. Sehingga perguruan tinggi dapat memutuskan secara independen strategi terbaik mereka.

Mereka menciptakan diagram dengan empat bagian (kuadran). Q1 Building Site berorientasi pada diri sendiri, namun perguruan tinggi percaya bahwa masa depan penuh ketidakpastian. Q2 Route Map menunjukan kepercayaan diri terhadap diri sendiri (perguruan tinggi) dan percaya bahwa masa depan lebih pasti. Q3 Carried Away, perguruan tinggi yakin akan masa depan yang pasti namun nasib mereka dikontrol oleh pihak lain, sementara Q4 Into the Mist berorientasi pada ketidakpastian di masa depan dan nasib perguruan tinggi ditentukan oleh pihak lain. Facer melakukan penelitiannya di Inggris dan ia mengungkapkan bahwa mayoritas perguruan tinggi disana mengatakan bahwa mereka berada di posisi Q3 Carried Away. Hal ini dikarenakan ada dorongan untuk memprivatisasi perguruan tinggi yang mengontrol masa depan perguruan tinggi di Inggris.

Perguruan tinggi di Indonesia, khususnya pasca COVID-19, harus menyiapkan mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang fleksibel dan adaptif. Maka dari itu, perlulah strategi yang matang. Strategi yang matang dimulai dari refleksi diri masing – masing perguruan tinggi terkait posisi mereka menghadapi masa depan.

Thinking tool yang ditawarkan Facer dan kolega bertujuan untuk menunjukkan bahwa solusi untuk menghadapi masa depan bervariasi dan memiliki banyak alternatif. Para pengambil kebijakan di tiap perguruan tinggi disarankan untuk melakukan brainstorm dan berdiskusi terkait persepsi mereka mengenai posisi kuadran perguruan tinggi mereka. Pertanyaan – pertanyaan tersebut yaitu:

Mengapa menurut anda kita berada di kuadran tersebut?

Atas dasar apa anda mengasumsikan pendapat anda mengenai masa depan?

Hal positif apa yang ada dari orientasi (kuadran) tersebut?

Hal negatif apa yang ada dari orientasi (kuadran) tersebut?

Berikan 5 alasan mengapa anda benar terhadap klaim anda

Facer dan kolega mengatakan bahwa pertanyaan tersebut dapat memicu pengambil kebijakan untuk mengubah asumsi mereka terkait masa depan, posisi mereka dan kepercayaan diri mereka untuk meraih target yang sudah ditentukan (2011). Thinking tool ini diklaim bermanfaat bagi perguruan tinggi yang sedang mengalami stagnasi karena tengah menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Yang berarti, hal ini relevan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia, bahkan dunia, yang tengah menghadapi pandemi COVID-19.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.