Select a page

Alami eco-anxiety, apa yang mahasiswa bisa lakukan?

Alami eco-anxiety, apa yang mahasiswa bisa lakukan?

Ilham R.F. Surya

MSc Candidate Environmental Sciences

Pernahkah Anda merasa sedih melihat penggundulan hutan di Kalimantan? Atau pernahkah Anda merasa marah melihat foto “komodo vs truk” bertajuk jurassic park yang viral beberapa minggu belakangan ini? Atau justru pernahkah Anda merasa tidak berdaya dengan seringnya pemberitaan pencemaran plastik di laut – laut Indonesia? Atau pernahkah Anda merasa nestapa melihat sawah – sawah disekitar tempat tinggal anda telah hilang dan disulap menjadi deretan perumahan? Anda tidak sendirian, fenomena ini disebut eco-anxiety (Pihkala, 2018). Eco-anxiety didefinisikan sebagai perasaan dan beban mental yang berat yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan dan pengetahuan manusia tentang lingkungan tersebut. Pengetahuan yang dimaksud cenderung pada pengetahuan ‘negatif’ dimana manusia mengetahui bahwa kerusakan – kerusakan lingkungan terjadi secara masif dimanapun. Perasaan ingin berbuat sesuatu untuk mengurangi permasalahan lingkungan namun merasa tidak mampu disebut juga ecoparalysis (Albrecht, 2011).

Bagi kita, khususnya yang sering terjadi di Indonesia. Bagi mahasiswa Indonesia di Wageningen, hal ini bisa jadi diperparah dengan banyaknya case study yang diajarkan di kelas – kelas mengenai contoh kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Mengingatkan kita bahwa banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi di negara kita. Terkadang, ada perasaan sedih mengenai hal ini. Namun tidak jarang juga hal ini menjadikan kita merasa tidak berdaya dan membuat kita berpikir “apa yang bisa kita lakukan?” Jika Anda pernah pengalami hal – hal diatas, anda telah mengalami eco-anxiety. Eco-anxiety juga bisa dipengaruhi dan mempengaruhi hal – hal lain di sekitar orang yang mengalaminya (Pihkala, 2018). Misalnya, gelombang kedua COVID-19 yang tidak kunjung surut bisa memperparah eco-anxiety seseorang. Bahkan, seperti layaknya ketakutan akan COVID-19, ketakutan akan rusaknya lingkungan juga bisa memperikan efek psikis (psikosomatik) terhadap diri manusia (Stoknes, 2015).

Tulisan ini tidak dibuat untuk menakut – nakuti, sebaliknya, tulisan ini memvalidasi perasaan – perasaan gelisah yang disebabkan oleh eco-anxiety. Selain itu juga untuk memberikan solusi, apa yang bisa kita lakukan ketika kita dilanda eco-anxiety? Berikut beberapa hal yang patut dicoba:

Optimis dan positif

Kerusakan lingkungan akan selalu ada dan tetap terjadi, inilah kenyataan yang mana kita harus berdamai dengannya. Jadi ketika kita bisa berdamai dengan keadaan tersebut, kita dapat berpikir lebih positif dan optimis. Bersikap optimis bukan berarti tidak acuh dan berdamai dengan kerusakan lingkungan bukan berarti kita menjustifikasinya. Kita tetap harus melakukan sesuatu terhadap kerusakan lingkungan tersebut. Hal ini dikarenakan jika kita bersikap pesimis dan negatif, justru akan memperparah kesehatan mental kita sendiri. Kita harus optimis bahwa setiap kontribusi yang kita lakukan bermakna dan membawa perubahan bagi orang lain dan lingkungan.

Menjadi optimis juga berarti mengubah narasi kita bahwa kerusakan lingkungan bukanlah tragedi, melainkan sebuah harapan (Pihkala, 2017). Pihakala menambahkan, menjadi positif dan memiliki harapan meningkatkan resiliensi emosional seseorang. Salah satu cara kita menjadi lebih positif adalah secara kolektif berdamai dan mengakui bahwa kerusakan lingkungan memang terjadi. Hal ini, menurut Pihkala, dapat memberikan “suatu kelegaan tersendiri”. Secara kolektif berkaitan dalam poin ketiga yang akan penulis sampaikan, yaitu bergabung dengan suatu komunitas.

Jangan merasa terlalu kecil untuk berkontribusi

“Jika anda merasa terlalu kecil untuk membuat perbedaan, cobalah tidur dengan seekor nyamuk”. Kutipan dari Dalai Lama tersebut tepat untuk menggambarkan poin kedua ini. Artinya kita tidak boleh merasa terlalu kecil untuk menciptakan perubahan. Belanja dengan membawa tas kain sendiri, menggunakan gelas reusable untuk membeli kopi, setiap ikan berlabel MSC yang kita beli, setiap botol plastik yang kita daur ulang dan semua perubahan – perubahan kecil yang kita lakukan membawa efek jangka panjang yang baik untuk lingkungan.

Bergabung dengan suatu komunitas

Bergabung dengan suatu komunitas memberikan banyak keuntungan. Yang pertama, seperti yang penulis katakan di poin pertama, bahwa secara kolektif mengakui bahwa kerusakan lingkungan memang terjadi dapat memberikan perasaan lega tersendiri bagi kita. Hal ini dikarenakan, sekaligus keuntungan kedua dalam bergabung dengan suatu komunitas, yaitu segala keresahan dan eco-anxiety yang kita rasakan tervalidasi dan dirasakan juga oleh orang lain hingga kita tidak lagi merasa sendiri. Terakhir, bergabung dengan suatu komunitas mengakomodasi kita untuk aktif berkontribusi terhadap lingkungan seperti melalui aktivitas garuk sampah di pantai atau memungut puntung – puntung rokok di jalanan.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.