Select a page

Dirgahayu Indonesia, Selamat Ultah Mbak Diana

Bornsesteeg, Wageningen

Bornsesteeg, Wageningen

Oleh: I Made Sarjana

Gema HUT ke-65 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak saja terasa di seluruh pelosok nusantara, masyarakat Indonesia yang bermukim di luar negeri juga tidak ketinggalan mengumandangkan salam Dirgahayu Indonesia. Keluarga besar Persatuan Pelajar Indonesia Wageningen (PPI Wau) The Netherlands Selasa (17/8/2010) berkumpul di halaman belakang Asrama Mahasiswa Bornsesteeg Wageningen untuk perayaan 17 Agustusan. Perayaan HUT Kemerdekaan itu juga dikaitkan dengan buka puasa bersama dan perayaaan ulang tahun Mbak Yusdiana salah seorang anggota PPI asal Lombok NTB.

Di “City of life Science” Wageningen, Netherlands sedikitnya 60 mahasiswa Indonesia sedang berjuang meuntut ilmu baik S2/S3 di dua universitas yakni Wageningen University and Van Hall Larenstein. Wageningen pun dikenal sebagai “Global Village” mengingat kota kecil namun dipenuhi mahasiswa international yang berasal dari berbagai negara di seluru dunia. Jadi tidak mengherankan jika pada perayaan HUT Kemerdekaan RI 2010 juga dihadiri mahasiswa international yang ingin mengenal cara orang Indonesia merayakan kemerdekaannya. Sebagaimana halnya di Indonesia, Perayaan HUT Kemerdekaan di Wageningen yang dikomandani Wakil Ketua PPI Wau Indra Firmansyah dan dipandu Pengurus PPI Netherlands Stephanie Sonya juga dimeriahkan “lomba merakyat”. Puluhan anggota PPI Wau yang sempat hadir sangat antusias mengikuti berbagai lomba seperti lomba balap kelereng, lomba sepeda lambat, memasukkan pensil kedalam botol dan lomba lari berpasangan dengan mengapit balon di punggung. “Lomba ini untuk mempererat rasa kekeluargaan antar mahasiswa Indonesia dan mahasiswa international,” tutur Indra.

Perayaan 17 Agustusan ini semakin semarak manakala dua mahasiswi international Andra (Rumania) dan Karen (Netherlands) memperlihatkan tingkah polah “lucu”. Layaknya anak-anak mengenal permainan baru mereka sangat antusias mencobanya dan menikmati sekali. Mereka pun berusaha menunjukkan kemampuan terbaik, tidak mengherankan jika mereka berhasil menyabet gelar juara dan meraih hadiah dan medali yang disediakan panitia. Andra juara dua lomba lari dengan kelereng, dan Karen menyabet juara dua memasukkan pensil ke dalam botol. Andra juga terpilih sebagai peserta favorit pilihan peserta lainnya. Hasil selengkapnya lomba merakyat dimana setiap cabang dipilih dua pemenang juara satu dan dua. Lomba balap kelereng dimenangkan Yuyu Rahayu dan Andra; Lomba memasukkan pensil ke dalam botol diraih Yuyu Rahayu dan Karen; sementara itu Indra Firmansyah dan Andita Sari berjasa pada lomba sepeda lambat; juara lomba bawa balon digondol pasangan Afan dan Adi dan pasangan Novi dan Rara.

Perayaan HUT Kemerdekaan kali ini juga dimeriahkan kegiatan yang memanfaatkan teknologi (jaringan internet) berupa kompetisi game online perang-perangan Age of Empires II Conqueror dan lomba karaoke. Lomba ini diikuti peserta dari kamar masing-masing, atau tidak berkumpul di satu tempat. Berdasarkan penuturan Awang Maharijaya panitia lomba, antusiasme anggota PPI mengikuti lomba cukup tinggi. “Panitia cukup sulit menentukan pemenangnya, maklum skor peserta tinggi-tinggi,” tutur pak Awang begitu iya akrab dipanggil. Panitia mengakui belum ada data valid tentang banyaknya anggota PPI Wau punya suara merdu dengan teknik vocal memadai. Beberapa peserta diduga jebolan (atau mungkin kalah bersaing) pada ajang pemandu bakat menyanyi di beberapa stasiun TV seperti Indonesia Idol, dangdut KDI, atau idola cilik sebelum mereka mengembara ke kampung Wageningen menimba ilmu. Adapun pemenang lomba karaoke sebagai berikut. Dianika Lestari yang melantunkan lagu “Can’t Help Fallin in Love (Elvis P)” dengan raihan poin 7276 meraih juara I, Juara dua dimenangkan Magdalena Lenny S   dengan judul lagu “You Belong With Me (Taylor Swift)” point 7108. Saint Cierra yang membawakan lagu “My Immortal (Evanescence)” point 6424 menyabet juara III.

Sementara itu puncak kemeriahan perayaan 17 Agustusan saat acara buka puasa bersama usai lomba merakyat. Berbagai peganan khas Indonesia dihidangkan oleh generasi penerus perjuangan RA Kartini di Wageningen yang dikomandani Rina Puspitasari, Shindi Indira, Ina Bele, Yusmarni, dan Chatlyn Panjaitan. Penataan hidangan pun sedikit unik, karena dihiasi pernak-pernik 17-an seperti bendera merah putih. Lebih jauh, ciri acara santap malam itu sebagai “pesta” hari kemerdekaan, sebelum menyantap hidangan, hadirin pun menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan syahdu. Inilah bukti, semangat cinta negeri (nasionalisme) Indonesia tetap mengelora di dada pelajar Indonesia di Wageningen. Ketua PPI Wageningen Yuyu Rahayu menegaskan kendati sederhana kegiatan ini sangat bermakna sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukur atas jasa para pahlawan yang telah berjuang membebaskan negeri dari belenggu penjajahan. Dirgahayu Indonesia, Sekali Merdeka Tetap Merdeka.(*)

Tentang Penulis: I Made Sarjana, Mahasiswa Master program Leisure, Tourism, and Environment Wageningen University-2009

2 Comments

  1. Indra Tuesday August 24th, 2010 Reply

    wahh mantapp ulasannya Pak Made..makin percaya pak Made emang dosen/wartawan handal..ditunggu ulasan/artikel berikutnya pak..

  2. navira Monday July 11th, 2016 Reply

    Selamat malam, apakah saya boleh meminta kontak kak Andra yang dari Rumania ? Karena saya alhamdulillah dpat beasiswa ke sana cuma ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan bersama keluarga siapa tau saya bisa bertanya2 mengenai rumania ke kak Andra. Terimakasih

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*