Select a page

Diskusi Cerdas Ceria : Mengenal lebih dekat dunia perkebunan Indonesia

PassPhotoPPIW_17  PassPhotoPPIW_19

Pada tanggal 21 Februari 2015, Divisi Pendidikan PPI Wageningen mengadakan Diskusi Cerdas Ceria bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Dunia Perkebunan Indonesia”. Dua orang pembicara yang memiliki pengalaman di bidang perkebunan dihadirkan dalam acara tersebut, yaitu Iman K. Nawireja dan Eben Haeser Sembiring. Bapak Iman telah lama berkecimpung di perkebunan kelapa sawit, sedangkan Bang Eben merupakan seorang peneliti di salah satu perusahaan perkebunan  swasta.

Pada kesempatan tersebut, Bang Eben membagi pengalamannya bekerja sebagai seorang breeder tanaman kakao di PT PP London Sumatra. Area penelitian yang besar, lokasi penelitian yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, jarak menuju lokasi perkebunan yang jauh dan memiliki infrastuktur yang kurang baik, serta kehidupan yang jauh dari keramaian kota terkadang dirasa menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun, hal tersebut diimbangi oleh tersedianya sarana dan prasarana dari perusahaan yang mendukung aktivitasnya sebagai seorang peneliti. Perusahaan menyediakan alat dan bahan penelitian, mendorong para peneliti untuk terus aktif berinovasi dengan kerap mengadakan pelatihan, serta mendukung apabila mereka ingin mengikuti konferensi atau membuat publikasi dalam bentuk jurnal ilmiah.adapun penelitian yang sedang dikembangkan saat ini ialah perakitan varietas unggul, penanaman, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit.

Selain itu, Bang Eben juga membahas mengenai peluang karir di perusahaan perkebunan. Mahasiswa jurusan Biologi dan Pertanian memiliki kesempatan karir yang sangat besar di bidang ini. Lulusan dari kedua jurusan tersebut dapat menempati berbagai posisi di perusahaan, seperti administrasi, agronomi, breeding, crop protection, data management, bioteknologi, dan technology transfer.

Dalam sesi yang lain, Pak Iman memaparkan kondisi industri minyak kelapa sawit di Indonesia dulu, sekarang, dan peluangnya di masa depan. Dahulu, tanaman kelapa sawit pertama kali ditanam di Indonesia oleh orang Belanda di Kebun Raya Bogor. Hanya 4 buah pohon kelapa sawit yang ditanam saat itu. Selanjutnya pada tahun 1911, dibangunlah industri kelapa sawit pertama di Sumatra Utara. Produksi minyak kelapa sawit Indonesia cukup tinggi, namun masih di bawah produksi Malaysia. Setelah tahun 2004, jumlah produksi minyak kelapa sawit Indonesia mampu melebihi Malaysia karena dilakukan ekstensifikasi di berbagai daerah. Saat ini, Indonesia menguasai mayoritas pasar kelapa sawit dunia. India, Cina, dan Uni Eropa merupakan negara-negara yang menjadi pasar terbesar kelapa sawit Indonesia.

Pak Iman menambahkan bahwa tren penjualan minyak kelapa sawit akan meningkat kedepannya. Hal ini disebabkan oleh harga minyak kelapa sawit yang murah, sifatnya yang serba guna, mudah diproduksi masal, dan pohon yang tahan lama. Selain itu, banyak masyarakat yang merasakan manfaat adanya industri ini di lingkungan mereka karena terbukanya lapangan kerja. Akan tetapi, disamping keuntungan dari industri ini, perkebunan kelapa sawit juga memiliki dampak negatif, terutama terhadap lingkungan. Luasnya lahan yang dibutuhkan untuk penanaman pohon kelapa sawit membuat pembukaan lahan menjadi marak yang berakibat kepada peningkatan laju deforestasi dan diikuti oleh penurunan biodiversitas. Fungsi lahan yang berubah mengakibatkan perubahan sifat fisikokimia tanah. Konflik sosial pun kerap terjadi akibat sengketa kepemilikan tanah. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, para pelaku usaha dituntut untuk menerapkan sustainable production. Mereka harus memiliki sertifikasi khusus, seperti RSPO, ISPO, dan ISCC yang harus diperbaharui setiap 5 tahun, agar produk mereka dapat dijual dan diekspor, terutama ke negara-negara Eropa.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*