Select a page

KBRI, Nasionalisme, dan Kemaritiman di Wageningen

KBRI, Nasionalisme, dan Kemaritiman di Wageningen

Sorry, this entry is only available in Bahasa Indonesia. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Jemput bola, KBRI Den Haag memfasilitasi lapor diri bagi mahasiswa baru Wageningen UR. Sabtu (26/9) kemarin, KBRI Den Haag bersama PPI Wageningen mengadakan acara lapor diri di ruangan C222, Forum Wageningen UR. Inisiatif KBRI Den Haag menerima kegiatan lapor diri di kota-kota di Belanda telah aktif sejak tahun 2007. Biasanya, mahasiswa baru-lah yang melaporkan diri ke gedung KBRI yang beralamat di jalan Tobias Asserlaan, Den Haag.

 

Dalam acara ini, hadir Atase Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Bambang Hari Wibisono, Atase Imigrasi Bapak Erwyn Franz Ramis Wantania, dan Sekretaris I Fungsi Protokol dan Konsuler Bapak Raden Usman Effendi. Ketiganya berkolaborasi dalam penyampaian materi mengenai peran KBRI Den Haag bagi mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Belanda. Cukup banyak materi yang disampaikan oleh para perwakilan dari pihak kedutaan besar, meliputi kemungkinan untuk pembuatan paspor hingga pentingnya melaporkan alamat tempat tinggal di Belanda. Penampilan “Productive Sunday” (group band PPI Wageningen) yang membawakan lagu nasional serta daerah Indonesia sukses menutup penyampaian materi dengan apik.

lapor diri 2 lapor diri 3

Tak hanya materi seputar fungsi KBRI yang diberikan, pada hari itu juga diselenggarakan Diskusi Cerdas Ceria (DCC) edisi ke-4. Diskusi panel kali ini mengangkat tema “Kemaritiman Indonesia” dan menghadirkan panelis yang tidak biasa. Pembicara pertama merupakan mantan Kepala Staf Angkatan Laut sekaligus penasehat senior Menko Kemaritiman, Laksamana TNI (Purn) Dr. Marsetio. Mendampingi beliau sebagai pembicara kedua adalah Bu Grace Hutubessy, PhD Candidate dari Wageningen UR.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya beserta sambutan dari Kuasa Hukum Ad Interim KBRI Den Haag, Pak Ibnu Wiwoho Wahyutomo, diskusi ini membahas identitas Indonesia sebagai negara maritime dan potensi-potensi yang bisa digali dari status maritim tersebut. Laksamana Dr. Marsetio membuka diskusi dengan menyatakan bahwa identitas kemaritiman Indonesia secara sistematik digeser sejak zaman kolonial menjadi negara agraris. Walaupun begitu, kemaritiman Indonesia memiliki banyak aspek yang bisa dimanfaatkan, termasuk sebagai sarana transportasi perdagangan dan wisata. Senada dengan pemateri pertama, Bu Grace memaparkan potensi kemaritiman Indonesia, yang juga meliputi kekayaan budaya dan Bahasa. Bu Grace juga menekankan pentingnya inovasi teknologi dan pendekatan sistematis dalam menjaga kesehatan daerah pesisir pantai, seperti penanaman bakau yang terstruktur dan berkala. Berbagai pertanyaan dilontarkan para penonton yang kritis, seperti tanggapan atas MoU China-Indonesia terhadap jalur sutera, serta kebijakan pemerintah di daerah perbatasan. Diskusi pun ditutup dengan penyerahan buku Indonesian Sea Power karangan pembicara pertama kepada hadirin yang beruntung, diikuti dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri. (FS)

dcc maritim 1 dcc maritim 2

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*