Select a page

Lidah Indonesia yang Mendunia

Ini bukan tentang makanan. Di Belanda, sebuah negara yang pernah punya histori panjang dengan Indonesia (cieeeh histori…), sudah gak mengherankan kalau banyak budaya serapan yang ter-akulturasi di antara kedua negara, termasuk bahasa. Nasi, bakmi, keroepoek bukan merupakan kata-kata asing di Belanda. Menurut informasi konon katanya, dari keseluruhan penduduk Belanda, sekitar 2,5% adalah orang Indonesia dan 2% adalah warga Suriname dan keturunannya.

Namun tetap saja, bagi kita pendatang yang belum lama tinggal di Belanda, hal ini terasa baru dan lucu. Suatu ketika, anak saya (3 tahun) sedang duduk di depan sebuah supermarket sambil belajar bernyanyi Balonku ada lima rupa-rupa warnanya. Lewatlah sepasang Oma-Opa bule, mereka menoleh sambil tersenyum dan berkata, “Nyanyi, nyanyi!…” sambil terus berlalu tanpa berhenti. Saya yang masih terkejut cuma bisa bengong dan tersenyum, Oma-Opa yang aneh.

wok-worldPernah juga suatu saat, saya pergi ke sebuah rumah makan Asia, yang jualan sepertinya orang Belanda keturunan timteng, tapi kokinya tampak sangat asli Asia. Menunya tampak menarik, ada ikan, udang, ayam dengan banyak variasi menu. Saya memesan menu udang dengan bumbu kari yang ‘pikabitaeun’. Penjualnya lalu nanya, “with nasi, bakmi or mihun?” Saya diam sebentar, lagi mikir pake nasi atau bakmi, kalau pake nasi ntar kenyang banget, menu di sini kan banyak-banyak banget. Mungkin karena saya terlihat bingung, diapun lalu berinisiatif menjelaskan, “this is nasi..” sambil ngeliatin nasi, “this is bakmi and that is mihun” sambil nunjuk mie dan bihun. Yaelah… gw juga tau keleus, om… seumur-umur emang makannya begituan. Akhirnya saya pesen udang met bakmi yang lekker sangat.

suburNgomongin makanan, di Arnhem ada sebuah tempat makan yang menarik, namanya ‘Warung Subur’. Tenang, ini tidak ada hubungannya dengan Mbah Subur yang legendaris itu. Yang punya namanya Tante Karla, warga negara Belanda keturunan Suriname. Sangat FASIH Boso Jowo dan TIDAK BISA Bahasa Indonesia. Ketika saya dan keluarga ke sana, kebetulan bisa ketemu dan kenalan langsung sama Tante Karla. Orangnya ramah dan seneng ngomong, pake boso jowo pastinya, sementara saya yang pengetahuan bahasa jawanya terbatas, cuman bisa senyum dan ngerespon “nggih… nggih..” By-the-way, mi godok-nya enak!

Ini di Belanda, bagaimana dengan negara-negara lain yang tidak pernah punya ‘cerita cinta’ dengan Indonesia? Memang agak susah menemukan jejak-jejak akulturasi Indonesia di kehidupan sehari-hari di negara lain selain Belanda, tapi dalam kesempatan tertentu ada saja yg bisa kita temukan.

Seperti kejadian yang satu ini, yang menurut saya agak hilarious. Summer tahun 2014 kemaren, saya sekeluarga berkesempatan mengunjungi kota Vienna Austria. Salah satu tujuan wisata utama di Vienna adalah Schönbrunn Palace, sebuah istana bersejarah yang dibangun berabad-abad yang lalu dan oleh Unesco dilestarikan sebagai World Heritage Site. Saya sedang mencoba mengambil foto keseluruhan bangunan utama istana di sela-sela para wisatawan yang lalu lalang dan suddenly, tiba-tiba, sekonyong-konyong, dari arah belakang ada suara menggelegar yang sangat janggal dan terdengar asing di sini. “Euleuh rame pisaaaan!!!” Gubrak! Saya langsung nyebut dan mencoba sadar, jangan-jangan saya nyasar ke Garut atau Cianjur.

Schönbrunn Palace, dan tiba-tiba...

Schönbrunn Palace, dan tiba-tiba…

Pelakunya ada di dalam frame ini, ayo tebak!

Pelakunya ada di dalam frame ini, ayo tebak!

 

Begitulah
+JML

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*