Select a page

Menuju Keberlanjutan dan Kualitas Hidup (Towards Sustainability and Quality of Life): PPI Wageningen menggelar konferensi ilmiah antarpelajar Indonesia se-Eropa di Belanda

Sabtu 7 Desember 2013, Sebanyak 70 peserta yang berasal dari Belanda dan negara Eropa lainnya seperti Perancis, Estonia, Jerman, Denmark, Spanyol dan Inggris memenuhi ruangan konferensi Ilmiah antarpelajar Indonesia se-Eropa di Wageningen. Mereka mempresentasikan hasil-hasil penelitian mereka, sebagian lagi merupakan observer yang turut berpartisipasi aktif dalam diskusi. Ajang ini juga menjadi wadah saling bersilaturahim antarpelajar Indonesia di Eropa.

xxxx

Konferensi ini digelar oleh para pelajar Indonesia di Universitas Wageningen yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen dengan tema “Menuju Keberlanjutan dan Kualitas Hidup” (Towards Sustainability and Quality of Life) . Acara yang mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kerajaan Belanda dan Universitas Wageningen serta disponsori oleh Teh Botol Sosro ini terselenggara dengan sukses dan mendapatkan antusiasme tinggi dari semua pihak.

scwwdw

Dua pembicara utama, yaitu Dr. Ljiljana Rodic-Wiersma dan Dr. Hamim, membuka acara konferensi dengan membawakan presentasi mereka yang sangat menginspirasi. Pembicara pertama merupakan senior researcher sekaligus dosen di Universitas Wageningen yang banyak meneliti tentang isu keberlanjutan (sustainability) di Asia Selatan dan Amerika Latin. Beliau juga merupakan konsultan di Badan Program Lingkungan (UNEP) PBB untuk pemerintah Australia. Pembicara kedua merupakan Atase Pertanian KBRI di Roma dan juga perwakilan Indonesia di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB.

Dr. Lilijana Rodic menyampaikan paparan berjudul “Keberlanjutan adalah sebuah pilihan”. Beliau memaparkan bahwa kita (manusia) telah menciptakan kondisi yang berdampak terhadap penurunan sumber daya alam. “Apakah hal ini dikarenakan manusia di bumi ini sudah terlalu banyak jumlahnya? Tapi jumlah semut sama dengan jumlah manusia dan mereka tidak mendatangkan hal-hal yang merugikan bagi alam dan bumi. Masalahnya bukan di jumlah, tetapi bagaimana manusia memperlakukan bumi dan aspek-aspek penopang kehidupan mereka”, lanjut beliau.

Beliau menegaskan bahwa sebenarnya sudah ada banyak ilmu dan kearifan yang disediakan oleh alam yang dapat kita pelajari dan terapkan. Kearifan alam tersebut salah satunya adalah sarang rayap di lahan gersang yang setelah diteliti dapat mempertahankan suhu di dalam sarang tetap sejuk meskipun kondisi di luar sangat panas. Teknologi sarang rayap ini kemudian diimplementasikan oleh Pemerintah Federal San Fransisco, California, Amerika Serikat dalam pembangunan sebuah gedung yang tetap sejuk tanpa memerlukan pendingin ruangan buatan. Di akhir presentasinya, Dr. Roddick menekankan niat kitalah yang paling penting, niat untuk menjaga keberlangsungan bumi beserta sumber daya alam yang dikandungnya.

Pembicara kedua, Dr. Hamim menyampaikan paparan yang berjudul “Pembangunan berkelanjutan di Indonesia dari perspektif pertanian”. Beliau mengutip pengertian keberlanjutan dari FAO yang menekankan empat elemen utama, yaitu kesatuan lingkungan, kesejahteraan sosial, ketahanan ekonomi dan tata pemerintahan yang baik. Beliau memaparkan bahwa pertanian merupakan sektor penting untuk Indonesia karena mengamankan pangan dan juga merupakan lapangan pekerjaan ekonomi basis di pedesaan serta menjadi penyangga terhadap krisis ekonomi.

Beliau menambahkan bahwa Indonesia memiliki beberapa komponen unggul yang menunjang pengembangan pertanian yang berkelanjutan, yaitu kondisi iklim yang baik, sumber daya alam (tanah, air, hutan, dan kelautan), sumber daya manusia, tradisi/ kebudayaan serta potensi pasar yang besar. Akan tetapi, terdapat beberapa tantangan yang menjadi persoalan kita bersama, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran yang rendah mengenai keberlanjutan, sumber daya modal, lemahnya institusi pertanian, nilai mata rantai yang tidak optimal, serta yang paling ditekankan oleh beliau adalah rendahnya kerja sama dengan industri.

Konferensi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab terhadap kedua pembicara utama yang berlangsung dengan sangat aktif. Setelah makan siang, konferensi dilanjutkan dengan sesi paralel yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok “agroteknologi, ilmu pangan, hewan, dan tanaman” dan “ilmu lingkungan, teknologi, manajemen, studi sosial dan ekonomi” dan sekali lagi disambut dengan antusiasme peserta dalam sesi diskusi. Bahkan di sesi diskusi pada dua sesi paralel ini, karena terbatasnya waktu, sering kali moderator dengan berat hati harus mengakhirinya meskipun masih banyak peserta yang ingin bertanya. Meskipun demikian Konferensi tetap diakhiri senyum ceria semua pihak dalam sesi foto bersama.

Zahara Mardiah, ketua panitia konferensi ini menyampaikan satu pernyataan menarik pada sambutan beliau, “Tidak ada penumpang di pesawat luar angkasa yang bernama bumi ini, kita semua adalah para awak kapal. Kita semua yang bertanggung jawab terhadap nasib kapal yang sedang kita kemudikan ini!” [Kontributor: Jimmy Wilopo & Zahara Mardiah]

<Dokumentasi>

IMG_2452

1 Comment

  1. hanari Saturday February 22nd, 2014 Reply

    acara yang pastinya akan menambah pengetahuan dan wawasan para pesertanya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*